Showing posts with label love story. Show all posts
Showing posts with label love story. Show all posts

Tuesday, March 17, 2009

Unconditional Love

Lima tahun usia pernikahanku dengan Ellen sungguh masa yang sulit. Semakin hari semakin tidak ada kecocokan diantara kami. Kami bertengkar karena hal-hal kecil. Karena Ellen lambat membukakan pagar saat aku pulang kantor. Karena meja sudut di ruang keluarga yang ia beli tanpa membicarakannya denganku, bagiku itu hanya membuang uang saja.

Hari ini, 27 Agustus adalah ulang tahun Ellen. Kami bertengkar pagi ini karena Ellen kesiangan membangunkanku. Aku kesal dan tak mengucapkan selamat ulang tahun padanya, kecupan di keningnya yang biasa kulakukan di hari ulang tahunnya tak mau kulakukan. Malam sekitar pukul 7, Ellen sudah 3 kali menghubungiku untuk memintaku segera pulang dan makan malam bersamanya, tentu saja permintaannya tidak kuhiraukan.

Jam menunjukkan pukul 10 malam, aku merapikan meja kerjaku dan beranjak pulang. Hujan turun sangat deras, sudah larut malam tapi jalan di tengah kota Jakarta masih saja macet, aku benar-benar dibuat kesal oleh keadaan. Membayangkan pulang dan bertemu dengan Ellen membuatku semakin kesal!

Akhirnya aku sampai juga di rumah pukul 12 malam, dua jam perjalanan kutempuh yang biasanya aku hanya membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai di rumah.

Kulihat Ellen tertidur di sofa ruang keluarga. Sempat aku berhenti di hadapannya dan memandang wajahnya. "Ia sungguh cantik" kataku dalam hati, "Wanita yang menjalin hubungan denganku selama 7 tahun sejak duduk di bangku SMA yang kini telah kunikahi selama 5 tahun, tetap saja cantik". Aku menghela nafas dan meninggalkannya pergi, aku ingat kalau aku sedang kesal sekali dengannya.

Aku langsung masuk ke kamar. Di meja rias istriku kulihat buku itu, buku coklat tebal yang dimiliki oleh istriku. Bertahun-tahun Ellen menulis cerita hidupnya pada buku coklat itu. Sejak sebelum menikah, tak pernah ia ijinkan aku membukanya. Inilah saatnya! Aku tak mempedulikan Ellen, kuraih buku coklat itu dan kubuka halaman demi halaman secara acak.

14 Februari 1996.
Terima kasih Tuhan atas pemberianMu yang berarti bagiku, Vincent, pacar pertamaku yang akan menjadi pacar terakhirku.

Hmm. aku tersenyum, Ellen yakin sekali kalau aku yang akan menjadi suaminya.

6 September 2001
Tak sengaja kulihat Vincent makan malam dengan wanita lain sambil tertawa mesra. Tuhan, aku mohon agar Vincent tidak pindah ke lain hati.

Jantungku serasa mau berhenti...

23 Oktober 2001
Aku menemukan surat ucapan terima kasih untuk Vincent, atas candle light dinner di hari ulang tahun seorang wanita dengan nama Melly. Siapakah dia Tuhan? Bukakanlah mataku untuk apa yang Kau kehendaki agar aku ketahui.

Jantungku benar-benar mau berhenti. Melly, wanita yang sempat dekat denganku disaat usia hubunganku dengan Ellen telah mencapai 5 tahun. Melly, yang karenanya aku hampir saja mau memutuskan hubunganku dengan Ellen karena kejenuhanku. Aku telah memutuskan untuk tidak bertemu dengan Melly lagi setelah dekat dengannya selama 4 bulan, dan memutuskan untuk tetap setia kepada Ellen. Aku sungguh tak menduga kalau Ellen mengetahui hubunganku dengan Melly.

4 Januari 2002
Aku dihampiri wanita bernama Melly, Ia menghinaku dan mengatakan Vincent telah selingkuh dengannya. Tuhan, beri aku kekuatan yang berasal daripadaMu.

Bagaimana mungkin Ellen sekuat itu, ia tak pernah mengatakan apapun atau menangis di hadapanku setelah mengetahui aku telah menghianatinya. Aku tahu Melly, dia pasti telah membuat hati Ellen sangat terluka dengan kata-kata tajam yang keluar dari mulutnya. Nafasku sesak,tak mampu kubayangkan apa yang Ellen rasakan saat itu.

14 Februari 2002
Vincent melamarku di hari jadi kami yang ke-6. Tuhan apa yang harus kulakukan? Berikan aku tanda untuk keputusan yang harus kuambil.

14 Februari 2003
Hari minggu yang luar biasa, aku telah menjadi Nyonya Alexander Vincent Winoto. Terima kasih Tuhan!

18 Juli 2005
Pertengkaran pertama kami sebagai keluarga. Aku harap aku tak kemanisan lagi membuatkan teh untuknya. Tuhan, bantu aku agar lebih berhati-hati membuatkan teh untuk suamiku.

7 April 2006
Vincent marah padaku, aku tertidur pulas saat ia pulang kantor sehingga ia menunggu di depan rumah agak lama. Seharian aku berada mall mencari jam idaman Vincent, aku ingin membelikan jam itu di hari ulang tahunnya yang tinggal 2 hari lagi. Tuhan, beri kedamaian di hati Vincent agar ia tidak marah lagi padaku, aku tak akan tidur di sore hari lagi kalau Vincent belum pulang walaupun aku lelah.

Aku mulai menangis, Ellen mencoba membahagiakanku tapi aku malah memarahinya tanpa mau mendengarkan penjelasannya. Jam itu adalah jam kesayanganku yang kupakai sampai hari ini, tak kusadari ia membelikannya dengan susah payah.

15 November 2007
Vincent butuh meja untuk menaruh kopi di ruang keluarga, dia sangat suka membaca di sudut ruang itu. Tuhan, bantu aku menabung agar aku dapat membelikan sebuah meja, hadiah Natal untuk Vincent.

Aku tak dapat lagi menahan tangisanku, Ellen tak pernah mengatakan meja itu adalah hadiah Natal untukku. Ya, ia memang membelinya di malam Natal dan menaruhnya hari itu juga di ruang keluarga.

Aku sudah tak sanggup lagi membuka halaman berikutnya. Ellen sungguh diberi kekuatan dari Tuhan untuk mencintaiku tanpa syarat. Aku berlari keluar kamar, kukecup kening Ellen
dan ia terbangun. "Maafkan aku Ellen, Aku mencintaimu, Selamat ulang tahun."

------------ --------- ------

Jika manusia bisa mencintai pasangannya tanpa syarat.

Bayangkan, bagaimana besarnya cinta Tuhan kepada kita yang adalah ciptaanNya. anakNya. sahabatNya. saudaraNya. sehingga Ia memberikan AnakNya yang kekasih untuk mati di kayu salib
bagi kita.


source: BKM - Buletin Komunitas Mudika Edisi Oktober 2008

Sumber : http://www.indocina.net/viewtopic.php?f=43&t=36467

Sunday, March 1, 2009

[love story]PEREMPUAN YG DICINTAI SUAMIKU

PEREMPUAN YG DICINTAI SUAMIKU


Kehidupan
pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang
pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak
baik dan lebih menuruti apa mauku.

Kami
tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi
kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian
mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun
sedikit. Aku pikir dia workaholic.



Dia
menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang
kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak
pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak
memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang.



Kami
jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan
makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan
berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang
terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu.



Kalau
hari libur, dia lebih sering hanya tiduran dikamar, atau main dengan
anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam,
aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.



Aku
mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan kami.
Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek
sakit dirumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di
kantornya, dibanding makan dirumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat
di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih
di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri,
bernama meisha, temannya Mario saat dulu kuliah.



Meisha
tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah melihat
mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya bersinar
indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara, seakan2
waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat2nya yang ringan dan
penuh pesona. Setiap orang, laki2 maupun perempuan bahkan mungkin
serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.



Meisha
tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu, Meisha
bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman yang akrab.
5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang
mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya
bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan
tempatnya bekerja.



Aku
mulai mengingat2 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada
Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan dalam
sehari bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan aku parfum baru,
dan mulai sering tertawa lepas. Tapi disaat lain, dia sering termenung
didepan komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau aku tanya,
dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.



Suatu
saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di
RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah
kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar, dan
menyapa dengan suara riangnya,



"
Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini ? tidak mau
makan juga? uhh… dasar anak nakal, sini piringnya, " lalu dia terus
mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba2 saja sepiring
nasi itu sudah habis ditangannya. Dan….aku tidak pernah melihat tatapan
penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak
pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya, tidak pernah
sedetikpun !



Hatiku
terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya
membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih
sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku melahirkan
anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau memakan
masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada sakit
ketika dia tidak pulang kerumah saat ulang tahun perkawinan kami
kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu
komputernya dibanding aku.



Tapi
aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu
manis, dia bisa hadir tiba2, membawakan donat buat anak2, dan
membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan2, kadang mengajakku
nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang lucu2.



Aku
tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan berhati
bidadari itu? karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang
bergejolak dihatinya.



Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta, aku tidak pernah menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis kemudian.



Anak
sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun, rambutnya
keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka
password email Papa nya, dan memanggilku, " Mama, mau lihat surat papa
buat tante Meisha ?"



Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,



Dear Meisha,



Kehadiranmu
bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku
tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan pada Rima. Aku
mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya,
karena dia ibu dari anak2ku.



Ketika
aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh2 mencintainya.
Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku memandangmu, tidak ada
perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku tidak menjumpainya.
Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik2 terjadi
saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak sanggup
mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk
mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku
menikahinya.



Aku
tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti
ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2 beringin yang
tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti
pepohonan di hutan2 belantara yang tidak pernah minta disirami, namun
tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan.



Aku
tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang
lain dan aku adalah laki2 yang sangat memegang komitmen pernikahan
kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa
melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang dia
inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan
tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu.
Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa
engkau mengerti, you are the only one in my heart.



yours,



Mario



Mataku terasa panas. Jelita,
anak sulungku memelukku erat. Meskipun baru berusia 7 tahun, dia adalah
malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan menyayangiku.



Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia mencintai perempuan lain.



Aku
mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap
hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan diamplop, dan aku letakkan di
lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya.



Mobil
yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku mengumpulkan
tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu aku belikan
motor untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario merasa heran, karena
aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam2 merek tas
dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya
menikahiku karena aku malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman2ku
sudah menikah semua. Ternyata dia memang tidak pernah menginginkan aku
menjadi istrinya.



Betapa
tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang
perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ? Kenapa
dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak
menginginkan aku ? itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan
mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku.



Mario
terus menerus sakit2an, dan aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah
dia mencintai perempuan itu terus didalam hatinya. Dengan pura2 tidak
tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu.
Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu
mencintainya.



**********



Setahun kemudian…



Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.



" Mario, suamiku….



Aku
tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja
dikantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona
padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku ketika aku
tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif
ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik
bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin, ketika
kamu hanya diam dan menuruti keinginanku… Aku pikir, aku si puteri
cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu dan
kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku…..



Ternyata
aku keliru…. aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan kita.
Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor dulu
yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario.



Aku
melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, " kenapa, Rima ? Kenapa
kamu mesti cemburu ? dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu menjadi
istriku ?"



Aku tidak perduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya.



Sekarang
aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia
bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku
bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan.



Istrimu,



Rima"



Di surat yang lain,



"………Kehadiran
perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi sedingin es. Engkau
mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya
cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang penuh cinta
itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Meisha……"



Disurat yang kesekian,



"…….Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku.



Aku
telah berubah, Mario. Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah2 padamu,
aku tidak lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi. Aku
belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku
tidak lagi boros, dan selalau menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar
dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang kerumah. Dan aku
selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan
siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau
tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur disamping tempat
tidurmu, dirumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit
pencernaanmu yang selalu bermasalah…….



Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap berusaha dan menantinya…….."



Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya… dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu disampingnya.



Disurat terakhir, pagi ini…



"…………..Hari ini
adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun lalu engkau
tidak pulang kerumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang, karena
hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedunia. Kemarin aku
belajar membuatnya dirumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup,
karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai
motor.



Saat
aku tiba dirumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran
dimatamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya
tidak sakit.



Tahukah engkau suamiku,



Selama
hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hampir 9
tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran itu
dari matamu, inikah tanda2 cinta mulai bersemi dihatimu ?………"



Jelita menatap Meisha, dan bercerita,



"
Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat
keceriaan diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya
kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama
seperti siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah2
kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya
diseberang jalan, Ketika mama menyeberang jalan, tiba2 mobil itu lewat
dari tikungan dengan kecepatan tinggi…… aku tidak sanggup melihatnya
terlontar, Tante….. aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak
lagi bergerak……" Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik
ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia
sangat dewasa.



Meisha
mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario
mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima
membacanya.



Dear Meisha,



Selama
setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah2 dan
selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh
basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba2
aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai
bergetar…. Inikah tanda2 aku mulai mencintainya ?



Aku
terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha. Dan
besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan mobil
mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana. Bukan
karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan jiwaku….



Meisha
menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk
disamping nisan Rima. Diwajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya telah
terjadi, Mario. Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang, ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.



Jakarta, 7 Januari 2009


Sumber : Email

Tuesday, February 24, 2009

[love story]Menyelamatkan dan Hidup Kembali

Italia :Dibalik cerita Pedonor sumsum tulang belakang dan pelaku pemerkosaan -- akhir tahun 2002 (true story)

Di suatu Koran Itali, muncullah berita pencarian orang yang istimewa :
17 Mei 1992 di parkiran mobil ke 5 Wayeli (nama kota), seorang wanita kulit putih diperkosa oleh seorang kulit hitam. Tak lama kemudian, sang wanita melahirkan seorang bayi perempuan berkulit hitam.
Ia dan suaminya tiba-tiba saja menanggung tanggung jawab untuk memelihara anak ini. Sayangnya,sang bayi kini menderita leukemia (kanker darah). Dan ia memerlukan transfer sumsum tulang belakang segera. Ayah kandungnya merupakan satu-satunya penyambung harapan hidupnya. Berharap agar pelaku pada waktu itu saat melihat berita ini, bersedia menghubungi Dr. Adely di RS Elisabeth.

Berita pencarian orang ini membuat seluruh masyarakat gempar.
Setiap orang membicarakannya. Masalahnya adalah apakah orang hitam ini berani muncul, Padahal jelas ia akan menghadapi kesulitan besar, Jika ia berani muncul, ia akan menghadapi masalah hukum, dan ada kemungkinan merusak kehidupan rumah tangganya sendiri.
Jika ia tetap bersikeras untuk diam, ia sekali lagi membuat dosa yang tak
terampuni. Kisah ini akan berakhir bagaimanakah ?
Seorang anak perempuan yang menderita leukemia ternyata menyimpan
suatu kisah yang memalukan di suatu perkampungan Itali. Martha, 35 thn, adalah wanita yang menjadi pembicaraan semua orang. Ia dan suaminya Peterson adalah warga kulit putih, tetapi diantara kedua
anaknya, ternyata terdapat satu yang berkulit hitam. Hal ini menarik perhatian setiap orang di sekitar mereka untuk bertanya, Martha hanya tersenyum kecil berkata pada mereka bahwa nenek berkulit hitam, dan kakeknya berkulit putih, maka anaknya Monika mendapat kemungkinan seperti ini. Musim gugur 2002, Monika yang berkulit hitam terus menerus mengalami demam tinggi.

Terakhir, Dr.Adely memvonis Monika menderita leukemia. Harapan satu-satunya hanyalah mencari pedonor sumsum tulang belakang yang
paling cocok untuknya. Dokter menjelaskan lebih lanjut : "Diantara mereka yang ada hubungan darah dengan Monika merupakan cara yang paling mudah untuk menemukan pedonor tercocok. Harap seluruh anggota keluarga kalian berkumpul untuk menjalani pemeriksaan sumsum tulang belakang." Raut wajah Martha berubah, tapi tetap saja seluruh keluarga menjalani pemeriksaan.Hasilnya tak satupun yang cocok. Dokter memberitahu mereka, dalam kasus seperti Monika ini, mencari pedonor yang cocok sangatlah kecil kemungkinannya. Sekarang hanya ada satu cara yang paling manjur, yaitu Martha dan suaminya kembali mengandung anak lagi. Dan mendonorkan darah anak untuk Monika. Mendengar usul ini Martha tiba-tiba menjadi panik, dan berkata tanpa suara :"Tuhan..kenapa menjadi begini " Ia menatap suaminya, sinar matanya dipenuhi ketakutan dan putus asa. Peterson mengerutkan
keningnya berpikir. Dr. Adely berusaha menjelaskan pada mereka,
saat ini banyak orang yang menggunakan cara ini untuk menolong nyawa para penderita leukimia, lagipula cara ini terhadap bayi yang baru dilahirkan sama sekali tak ada pengaruhnya. Hal ini hanya didengarkan oleh pasangan suami istri tersebut, dan termenung begitu lama.
Terakhir mereka hanya berkata :"Biarkan kami memikirkannya kembali."

Malam kedua, Dr. Adely tengah bergiliran tugas, tiba-tiba pintu ruang
kerjanya terbuka, pasangan suami-istri tersebut. Martha menggigit bibirnya keras, suaminya Peterson, menggenggam tangannya,
dan berkata serius pada dokter :
"Kami ada suatu hal yang perlu memberitahumu. Tapi harap Anda berjanji untuk menjaga kerahasiaan ini, karena ini merupakan rahasia kami suami-istri selama beberapa tahun." Dr.Adely menganggukkan kepalanya.
"Itu adalah 10 tahun lalu, bulan 5 1992. Waktu itu anak kami yang pertama, Eleana telah berusia 2 tahun. Martha bekerja di sebuah restoran fast food.Setiap hari pukul 10 malam baru pulang kerja.
Malam itu, turun hujan lebat.Saat Martha pulang kerja, seluruh jalanan
telah tiada orang satupun. Saat melalui suatu parkiran yang tak terpakai lagi. Martha mendengar suara langkah kaki, dengan ketakutan memutar kepala untuk melihat, seorang remaja berkulit hitam tengah berdiri di belakang tubuhnya. Orang tersebut menggunakan sepotong kayu, memukulnya hingga pingsan, dan memperkosanya. Saat Martha sadar, dan pulang ke rumah dengan tergesa-gesa, waktu telah menunjukkan pukul 1 malam. Waktu itu aku bagaikan gila keluar rumah mencari orang hitam itu untuk membuat perhitungan. Tapi telah tak ada bayangan orang satupun."

"Malam itu kami hanya dapat memeluk kepala masing-masing menahan kepedihan. Sepertinya seluruh langit runtuh." Bicara sampai sini, Peterson telah dibanjiri air mata, Ia melanjutkan
kembali : "Tak lama kemudian Martha mendapati dirinya hamil. Kami merasa sangat ketakutan, kuatir bila anak yang dikandungnya merupakan milik orang hitam tersebut. Martha berencana untuk menggugurkannya, tapi aku masih mengharapkan keberuntungan,
mungkin anak yang dikandungnya adalah bayi kami. Begitulah, kami ketakutan menunggu beberapa bulan.Maret 1993, Martha melahirkan bayi perempuan, dan ia berkulit hitam. Kami begitu putus
asa, pernah terpikir untuk mengirim sang anak ke panti asuhan. Tapi mendengar suara tangisnya, kami sungguh tak tega.Terlebih lagi bagaimanapun Martha telah mengandungnya, ia juga merupakan sebuah nyawa. Aku dan Martha merupakan warga Kristen yang taat,
pada akhirnya kami memutuskan untuk memeliharanya, dan emberinya nama Monika."

Mata Dr.Adely juga digenangi air mata, pada akhirnya ia memahami kenapa bagi kedua suami istri tersebut kembali mengandung anak merupakan hal yang sangat mengkuatirkan. Ia berpikir sambil mengangguk-anggukkan kepala berkata : "Memang jika demikian, kalian melahirkan 10 anak sekalipun akan sulit untuk mendapatkan donor yang cocok untuk Monika!" Beberapa lama kemudian, ia memandang Martha dan berkata :"Kelihatannya, kalian harus mencari ayah kandung Monika. Barangkali sumsum tulangnya, atau sumsum tulang belakang anaknya ada yang cocok untuk Monika.Tetapi, apakah kalian bersedia membiarkan ia kembali muncul dalam kehidupan kalian ?Martha
berkata : "Demi anak, aku bersedia berlapang dada memaafkannya. Bila
ia bersedia muncul menyelamatkannya. Aku tak akan emperkarakannya.
Dr.Adely merasa terkejut akan kedalaman cinta sang ibu.

Berita pencarian yang istimewa ini mengakibatkan banjir pedonor sumsum tulang belakang.Terlebih lagi lewat waktu begitu lama, mau mencari sang pemerkosa dimana Marthadan Peterson mempertimbangkannya baik-baik, sebelum akhirnya memutuskan memuat berita pencarian ini di koran dengan menggunakan nama samaran. November 2002, di koranWayeli termuat berita pencarian ini,
seperti yang digambarkan sebelumnya. Berita ini memohon sang pelaku
pemerkosaan waktu itu berani muncul, demi untuk menolong sebuah nyawa seorang anak perempuan penderita leukimia !Begitu berita ini keluar, tanggapan masyarakat begitu menggemparkan.Kotak suratdan telepon Dr. Adely bagaikan meledak saja, kebanjiran suratmasuk dan telepon, orang-orang terus bertanya siapakah wanita ini Merekaingin bertemu dengannya, berharap dapat memberikan bantuan padanya.

Tetapi Martha menolak semua perhatian mereka, ia tak ingin mengungkapkan identitas sebenarnya, lebih tak ingin lagi identitas Monika sebagai anak hasil pemerkosaan terungkap. Saat ini juga seluruh media penuh dengan diskusi tentang bagaimana cerita ini berakhir.(suratkabar Roma) Komentar dengantopik : ?Orang hitam itu akan munculkah ?Jika orang hitam ini berani muncul, akan bagaimanakah masyarakat kita sekarang menilainya Akankah menggunakan hukum yang berlaku untuk menghakiminya Haruskah ia menerima
hukuman dan cacian untuk masa lalunya, ataukah ia harus menerima pujian karena keberaniannya hari ini ? (Surat kabar Wayeli) manulis topik ?Bila Anda orang berkulit hitam itu, apa tindakan yang Anda lakukan? sebagai bahan diskusi. Dan menarik berbagai pendapat akansulitnya berada di dua pilihan ini.

Bagian penjara setempat terus berupaya membantu Martha,
memberikan laporan terpidana hukuman pada tahun 1992 pada RS.Dikarenakan jumlah orang berkulit hitam di kota ini hanya sedikit, maka dalam 10 tahun terakhir ini juga hanya sedikit jumlah terhukum berkulit hitam.Mereka berkata pada Martha :?Sekalipun beberapa orang bukanlah terhukum karena tindak perkosaan, tapi mungkin beberapa juga menemui hal seperti ini.?
Beberapa orang ini juga sebagian telah keluar penjara, sebagian lainnya
masih berada di dalam penjara.Martha dan Peterson menghubungi beberapa orang ini, begitu banyak terpidana waktu itu yang bersungguh-sungguh dan antusias untuk memberikan petunjuk.Tapi sayangnya, mereka semua bukanlah orang hitam yang memperkosanya waktu itu.Tak lama kemudian, kisah Martha menyebar ke seluruh rumah tahanan, tak sedikit terpidana yang tergerak karena kasih ibu ini, tak peduli mereka berkulit hitam maupun berkulit putih, mereka semua bersukarela mendaftar untuk menjalani pemeriksaan sumsum tulang belakang, berharap dapat mendonorkannya untuk Monika. Tapi
tak satupun pedonor yang memenuhi kriteria di antara mereka.
Berita pencarian ini mengharukan banyak orang, tak sedikit orang yang
bersukarela untuk menjalani pemeriksaan sumsum tulang belakang, untuk mengetahui apakah dirinya memenuhi kriteria.Parasukarelawan semakin lama semakin bertambah, di Wayeli timbullah wabah untuk mendonorkan sumsum tulang belakang.Hal yang mengejutkan adalah kesediaan para sukarelawan ini menyelamatkan banyak penderita leukimia lainnya, sayangnya Monika tak termasuk diantara mereka
yang beruntung.

Martha dan Peterson menantikan dengan panik kemunculan si
kulit hitam.Akhirnya dua bulan telah lewat, orang ini tak muncul-muncul
juga.Dengan tidak tenang, mereka mulai berpikir, mungkin orang hitam itu sudah telah meninggalkan dunia ini Mungkinia telah meninggalkan jauh-jauh kampung halamannya. Sudah sejak lama tak berada di Itali.Mungkin iatak bersedia merusak kehidupannya sendiri, tak ingin muncul Tapi tak peduli bagaimanapun, asalkan Monika hidup sehari lagi, mereka tak rela untuk melepaskan harapan untuk mencari orang hitam itu.Disaat sebuah jiwa merana tak menentu, harapan selalu disaat keputusasaan melanda kembali muncul.

Saat itu berita pencarian juga muncul di Napulese, memporakporandakan
perasaan seorang pengelola toko minuman keras berusia 30 tahun.Iaseorang kulit hitam, bernama Ajili. 17 Mei 1992 waktu itu, iamemiliki lembaran tergelam merupakan mimpi terburuknya di malam berhujan itu. Iaadalah sang peran utama dalam kisah ini. Tak seorangpun menyangka, Ajili yang sangat kaya raya itu, pernah bekerja sebagai pencuci piring panggilan.Dikarenakan orang tuanya telah meninggal sejak iamasih muda, ia yang tak pernah mengenyam dunia pendidikan terpaksa bekerja sejak dini. Iayang begitu pandai dan
cekatan, berharap dirinya sendiri bekerja dengan giat demi mendapatkan
sedikit uang dan penghargaan dari orang lain. Tapi sialnya, bosnya merupakan seorang rasialis, yang selalu mendiskriminasikannya.
Tak peduli segiat apapun dirinya, selalu memukul dan memakinya.

17 Mei 1992, merupakan ulang tahunnya ke 20, ia berencana untuk pulang kerja lebih awal merayakan hari ulang tahunnya. Siapa menyangka, ditengah kesibukan ia memecahkan sebuah piring. Sang bos menahan kepalanya, memaksanya untuk menelan pecahan piring. Ajili begitu marah dan memukul sang bos, lalu berlari keluar
meninggalkan restoran. Ditengah kemarahannya ia bertekad untuk membalas dendam pada si kulit putih. Malam berhujan lebat, tiada seorangpun lewat, dan di parkiran iabertemu Martha. Untuk membalaskan dendamnya akibat pendiskriminasian, iapun memperkosa sang wanita yang tak berdosa ini. Tapi selesai melakukannya, Ajili mulai panik dan ketakutan. Malam itu juga ia menggunakan uang ulang tahunnya untuk membeli tiket KA menuju Napulese, meninggalkan kotaini.Di Napulese, ia bertemu keberuntungannya.Ajili mendapatkan pekerjaan dengan lancar di restoran milik orang Amerika.Kedua
pasangan Amerika ini sangatlah mengagumi kemampuannya, dan menikahkannya dengan anak perempuan merka, Lina, dan pada akhirnya juga mempercayainya untuk mengelola toko mereka.

Beberapa tahun ini, iayang begitu tangkas, tak hanya memajukan bisnis toko minuman keras ini, ia juga memiliki 3 anak
yang lucu. Dimata pekerja lainnya dan seluruh anggota keluarga, Ajili
merupakan bos yang baik, suami yang baik, ayah yang baik.Tapi hati nuraninya tetap membuatnya tak melupakan dosa yang pernah diperbuatnya. Iaselalu memohon ampun pada Tuhan dan berharap Tuhan melindungi wanita yang pernah diperkosanya, berharap ia selalu hidup damai dan tentram. Tapi iamenyimpan rahasianya rapat-rapat, tak memberitahu seorangpun. Pagi hari itu, Ajili berkali-kali membolak-balik koran, ia terus mempertimbangkan kemungkinan dirinyalah pelaku yang dimaksud. Sedikitpun iatak pernah membayangkan bahwa wanita malangitu mengandung anaknya, bahkan menanggung tanggung jawab
untuk memelihara dan menjaga anak yang awalnya bukanlah miliknya.

Hari itu, Ajili beberapa kali mencoba menghubungi no.Telepon Dr.Adely.Tapi setiap kali, belum sempat menekan habis tombol telepon, iatelah menutupnya kembali. Hatinya terus bertentangan, bila iabersedia mengakui semuanya, setiap orang kelak akan mengetahui sisi terburuknya ini, anak-anaknya tak akan lagi mencintainya, ia akan kehilangan keluarganya yang bahagia dan istrinya yang cantik. Juga akankehilangan penghormatan masyarakat disekitarnya.
Semua yang iadapatkan dengan ditukar kerja kerasnya bertahun-tahun.

Malam itu, saat makan bersama, seluruh keluarga mendiskusikan kasus Martha. Sang istri, Lina berkata : "Aku sangat mengagumi Martha. Bila aku diposisinya, aku tak akan memiliki keberanian untuk memelihara anak hasil perkosaan hingga dewasa. Aku lebih mengagumi lagi suami Martha, ia sungguh pria yang patut dihormati, tak disangka ia dapat menerima anak yang demikian."
Ajili termenung mendengarkan pendapat istrinya, dan tiba-tiba mengajukan pertanyaan : "Kalau begitu, bagaimana kau memandang pelaku pemerkosaan itu ?"
"Sedikitpun aku tak akan memaafkannya !!! Waktu itu ia sudah membuat
kesalahan, kali ini juga hanya dapat meringkuk menyelingkupi dirinya
sendiri, ia benar-benar begitu rendah, begitu egois, begitu pengecut ! Ia
benar-benar seorang pengecut !" demikian istrinya menjawab dengan dipenuhi api kemarahan. Ajili mendengarkan saja, tak berani mengatakan kenyataan pada istrinya. Malam itu, anaknya yang baru berusia 5 tahun begitu rewel tak bersedia tidur, untuk pertama kalinya Ajili kehilangan kesabaran dan menamparnya.Sang anak sambil menangis berkata :"Kau ayah yang jahat, aku tak mau peduli kamu lagi. Aku tak ingin kau menjadi ayahku." Hati Ajili bagai terpukul keras mendengarnya, iapun memeluk erat-erat sang anak dan
berkata : "Maaf, ayah tak akan memukulmu lagi. Ayah yang salah, maafkan ayah ya.. " Sampai sini, Ajili pun tiba-tiba menangis. Sang anak terkejut dibuatnya, dan buru-buru berkata padanya untuk menenangkan ayahnya : "Baiklah, kumaafkan. Guru TK ku bilang, anak yang baik adalah anak yang mau memperbaiki kesalahannya."

Malam itu, Ajili tak dapat terlelap, merasa dirinya bagaikan terbakar dalam neraka. Dimatanya selalu terbayang kejadian malam berhujan deras itu, dan bayangan sang wanita. Iasepertinya dapat mendengarkan jerit tangis wanita itu. Tak henti-hentinya ia bertanya pada dirinya sendiri :"Aku ini sebenarnya orang baik, atau orang jahat ?" Mendengar bunyi napas istrinya yang teratur, iapun kehilangan seluruh eberaniannya untuk berdiri. Hari kedua, ia hampir tak tahan lagi rasanya. Istrinya mulai merasakan adanya ketidak beresan pada dirinya, memberikan perhatian padanya dengan menanyakan apakah ada masalah. Dan ia mencari alasan tak enak badan untuk meloloskan dirinya. Pagi hari di jam kerja, sang karyawan menyapanya ramah :
"Selamat pagi, manager !" Mendengar itu, wajahnya tiba-tiba menjadi pucat pasi, dalam hati dipenuhi perasaan tak menentu dan rasa malu. Ia merasa dirinya hampir menjadi gila saja rasanya. Setelah berhari-hari memeriksa hati nuraninya, Ajili tak dapat lagi terus diam saja, iapun menelepon Dr. Adely. Ia berusaha sekuat tenaga menjaga suaranya supaya tetap tenang : "Aku ingin mengetahui keadaan anak malang itu."
Dr. Adely memberitahunya, keadaan sang anak sangat parah.
Dr.Adely menambahkan kalimat terakhirnya berkata :
"Entah apa ia dapat menunggu hari kemunculan ayah kandungnya." Kalimat terakhir ini menyentuh hati Ajili yang paling dalam, suatu perasaan hangat sebagai sang ayah mengalir keluar, bagaimanapun anak itu juga merupakan darah dagingnya sendiri ! Iapun membulatkan tekad untuk menolong Monika. Ia telah melakukan kesalahan sekali, tak boleh kembali membiarkan dirinya meneruskan kesalahan ini.

Malam hari itu juga, iapun mengobarkan keberaniannya sendiri untuk
memberitahu sang istri tentang segala rahasianya. Terakhir ia berkata :"Sangatlah mungkin bahwa aku adalah ayah Monika ! Aku harus menyelamatkannya !" Lina sangat terkejut, marah dan terluka, mendengar semuanya, ia berteriak marah :"Kau PEMBOHONG !"
Malam itu juga ia membawa ketiga anak mereka, dan lari pulang ke rumah ayah ibunya. Ketika ia memberitahu mereka tentang kisah Ajili, kemarahan kedua suami-istri tersebut dengan segera mereda. Mereka adalah dua orang tua yang penuh pengalaman hidup, mereka menasehatinya : "Memang benar, kita patut marah terhadap segala tingkah laku Ajili di masa lalu. Tapi pernahkah kamu memikirkan, ia dapat mengulurkan dirinya untuk muncul, perlu berapa banyak
keberanian besar. Hal ini membuktikan bahwa hati nuraninya belum sepenuhnya terkubur. Apakah kau mengharapkan seorang suami yang pernah melakukan kesalahan tapi kini bersedia memperbaiki dirinya, Ataukah seornag suami yang
selamanya menyimpan kebusukan ini didalamnya ?"
Mendengar ini Lina terpekur beberapa lama. Pagi-pagi di hari kedua, ia
langsung kembali ke sisi Ajili, menatap mata sang suami yang dipenuhi penderitaan, Lina menetapkan hatinya berkata : "Ajili, pergilah menemui Dr. Adely ! Aku akan menemanimu !"

3 Februari 2003, suami istri Ajili, menghubungi Dr. Adely.8 Februari,
pasangan tersebut tiba di RS Elisabeth, demi untuk pemeriksaan DNA
Ajili. Hasilnya Ajili benar-benar adalah ayah Monika. Ketika Martha
mengetahui bahwa orang hitam pemerkosanya itu pada akhirnya berani
memunculkan dirinya, iapun tak dapat menahan air matanya. Sepuluh tahun ini ia terus memendam dendam kesumat terhadap Ajili, namun saat ini ia hanya dipenuhi perasaan terharu. Segalanya berlangsung dalam keheningan. Demi untuk melindungi pasangan
Ajili dan pasangan Martha, pihak RS tidak mengungkapkan dengan jelas
identitas mereka semua pada media, dan juga tak bersedia mengungkapkan keadaan sebenarnya, mereka hanya memberitahu media bahwa ayah kandung Monika telah ditemukan. Berita ini mengejutkan seluruh pemerhati berita ini. Mereka terus-menerus menelepon, menulis suratpada Dr. Adely, memohon untuk dapat
menyampaikan kemarahan mereka pada orang hitam ini, sekaligus penghormatan mereka padanya. Mereka berpendapat : "Barangkali ia pernah melakukan tindak pidana, namun saat ini ia seorang pahlawan !"

10 Februari, kedua pasangan Martha dan suami memohon untuk dapat bertemu muka langsung dengan Ajili. Awalnya Ajili tak berani untuk menemui mereka, namun pada permohonan ketiga Martha, iapun menyetujui hal ini.

18 Februari, dalam ruang tertutup dan dirahasiakan di RS, Martha bertemu langsung dengan Ajili. Ajili baru saja memangkas rambutnya, saat iamelihat Martha, langkah kakinya terasa sangatlah berat, raut wajahnya memucat. Martha dan suaminya melangkah maju, dan mereka bersama-sama saling menjabat tangan masing-masing, sesaat
ketiga orang tersebut diam tanpa suara menahan kepedihan, sebelum akhirnya air mata mereka bersama-sama mengalir.
Beberapa waktu kemudian, dengan suara serak Ajili berkata :
"Maaf...mohon maafkan aku ! Kalimat ini telah terpendam dalam hatiku
selama 10 tahun. Hari ini akhirnya aku mendapat kesempatan untuk mengatakannya langsung kepadamu."
Martha menjawab : "Terima kasih kau dapat muncul. Semoga Tuhan memberkati, sehingga sumsum tulang
belakangmu dapat menolong putriku."

19 Februari, dokter melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang Ajili. Untungnya, sumsum tulang belakangnya sangat cocok bagi Monika !
Sang dokter berkata dengan antusias : "Ini suatu keajaiban !"

22 Februari 2003, sekian lama harapan masyarakat luas akhirnya
terkabulkan. Monika menerima sumsum tulang belakang Ajili, dan pada akhirnya Monika telah melewati masa kritis. Satu minggu kemudian, Monika boleh keluar RS dengan sehat walafiat.

Martha dan suami memaafkan Ajili sepenuhnya, dan secara khusus mengundang Ajili dan Dr. Adely datang kerumah mereka untuk merayakannya.Tapi hari itu Ajili tidak hadir, ia memohon Dr. Adely membawa suratnya bagi mereka. Dalam suratnya ia menyatakan penyesalan dan rasa malunya berkata : "Aku tak ingin kembali mengganggu kehidupan tenang kalian. Aku berharap Monika berbahagia
selalu hidup dan tumbuh dewasa bersama kalian.Bila kalian menghadapi
kesulitan bagaimanapun, harap hubungi aku, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membantu kalian !
Saat ini juga, aku sangat berterima kasih pada Monika, dari dalam lubuk
hatiku terdalam, dialah yang memberiku kesempatan untuk menebus dosa. Dialah yang membuatku dapat memiliki kehidupan yang benar-benar bahagia di saparoh usiaku selanjutnya.
Ini adalah hadiah yang ia berikan padaku.."



Sumber : Forum

[love story]Mawar Story

Mawar merah adalah kecintaannya, ... nama orangnya sendiri juga "Mawar". Dan setiap tahun suaminya selalu mengirimkan mawar-mawar itu, diikat dengan pita indah. Pada tahun suaminya meninggal, ... dia mendapat kiriman mawar lagi. Kartunya tertulis "Be My Valentine like all the years before".

Sebelumnya, setiap tahun suaminya mengirimkan mawar, dan kartunya selalu tertulis, "Aku mencintaimu lebih lagi tahun ini, ... Kasihku selalu bertumbuh untukmu seturut waktu yang berlalu ..." Dia tahu ini adalah terakhir kali suaminya mengirimkan mawar-mawar itu. Dia tahu suaminya memesan semua itu dengan bayar di muka sebelum hari pengiriman. Suaminya tidak tahu kalau dia akan meninggal. Dia selalu suka melakukan segala sesuatu sebelum waktunya. Sehingga ketika suaminya sangat sibuk sekalipun,segala sesuatunya dapat berjalan dengan baik.

Lalu Mawar memotong batang mawar-mawar itu dan menempatkan semuanya dalam satu vas bunga yang sangat indah. Dan meletakkan vas cantik itu disebelah potret suaminya tercinta. Kemudian dia akan betah duduk berjam-jam dikursi kesayangan suaminya sambil memandangi potret suaminya dan bunga-bunga mawar itu.

Setahun telah lewat, dan itu adalah saat yang sangat sulit baginya. Dengan kesendiriannya dijalaninya semua. Sampai hari ini Valentine ini.. Beberapa saat kemudian, bel pintu rumahnya berbunyi,... seperti hari-hari Valentine sebelumnya Ketika dibukanya, dilihatnya buket mawar di depan pintunya. Dibawanya masuk,dan tiba-tiba seakan terkejut melihatnya.

Kemudian dia langsung menelpon toko bunga itu... Ditanyakannya kenapa ada seseorang yang begitu kejam melakukan semua itu padanya, membuat dia teringat kepada suaminya..dan itu sangat menyakitkan ...

Lalu pemilik toko itu menjawabnya, "Saya tahu kalau suami Nyonya telah meninggal lebih dari setahun yang lalu. Saya tahu anda akan menelpon dan ingin tahu mengapa semua ini terjadi ... Begini Nyonya, ... bunga yang anda terima hari ini sudah di bayar di muka oleh suami anda. Suami anda selalu merencanakan nya dulu dan rencana itu tidak akan berubah. Ada standing order di file saya, dan dia telah membayar semua... maka anda akan menerima bunga-bunga itu setiap tahun. Ada lagi yang harus anda ketahui, ... Dia menulis surat special untuk anda ... ditulisnya bertahun-tahun yang lalu...dimana harus saya kirimkan kepada anda satu tahun kemudian jika dia tidak muncul lagi di sini memesan bunga mawar untuk anda... Lalu, tahun kemarin, saya tidak temukan dia di sini, ... maka surat itu harus saya kirimkan setahun lagi ... yaitu tahun ini, ... surat yang ada bersama dengan bunga itu sekarang... bersama dengan Nyonya saat ini." Mawar mengucapkan terima kasih dan menutup telepon,... dia langsung menuju ke buket bunga mawar itu,...

Sedangkan air matanya terus menetes. Dengan tangan gemetar diambilnya surat itu Di dalam surat itu dilihatnya tulisan tangan suaminya menulis, "Dear kekasihku, ... Aku tahu ini sudah setahun semenjak aku pergi. Aku harap tidak sulit bagimu untuk menghadapi semua ini. Kau tahu, semua cinta yang pernah kita jalani membuat segalanya indah bagiku, Kau adalah istri ang sempurna bagiku. Kau juga adalah seorang teman dan kekasihku yang memberikan semua kebutuhanku. Aku tahu ini baru setahun, ... Tapi tolong jangan bersedih ...Aku ingin kau selalu bahagia, ... Walaupun saat kau hapus air matamu ... Itulah mengapa mawar-mawar itu akan selalu dikirimkan kepadamu. Ketika kau terima mawar itu, ingatlah semua kebahagiaan kita, dan betapa kita begitu diberkati ... Aku selalu mengasihimu ... dan aku tahu akan selalu mengasihimu ... Tapi, ... istriku, kau harus tetap berjalan ... kau punya kehidupan... Cobalah untuk mencari kebahagiaan untuk dirimu. Aku tahu tidak akan mudah tapi pasti ada jalan. Bunga mawar itu akan selalu datang setiap tahun, ... dan hanya akan berhenti ketika pintu rumahmu tidak ada yang menjawab dan pengantar bunga berhenti mengetuk pintu rumahmu ... Tapi kemudian dia akan datang 5 kali hari itu, takut kalau engkau sedang pergi ... Tapi jika pada kedatangannya yang terakhir dia tetap tidak menemukanmu ... Dia akan meletakkan bunga itu ke tempat yang ku suruh ... meletakkan bunga-bunga mawar itu ditempat dimana kita berdua bersama lagi.. untuk selamanya ...

I LOVE YOU MORE THAN LAST YEAR, ... HONEY ..."

Sometimes in life, you find a special friend;
Someone who changes your life just by being part of it;
Someone who makes you laugh until you can't stop;
Someone who makes you believe that there really is good in the world;
Someone who convinces you that there really is an unlocked door just waiting for you to open it.
This is Forever Friendship ...


Sumber : Forum

[love story]KETIKA DIA TELAH KEMBALI

Bram : “Detaaaaaaaaaaaaaaaaa.. tungguuuuuuuuuuuu�

Aku menoleh ketika samar-samar kudengar seseorang memanggilku. Omagot.. nggak salah liat nih? Aku mengucek-ucek mataku..kuliat seorang cowok berlari-lari menghampiriku, Bram?? Hmm.. tapi bagaimana mungkin.. dia kan masih di UK.. tapi dr tampangnya dia sangat mirip banget dengan Bram. Ketika aku sibuk menganalisa, si cowok itu udah ada didekatku..

Bram : “Knapa nona manis?heran ya liat saya di sini?� sapa si cowok itu
Deta : “Bram jeleeeeeeeeekk.. ih kamu jahat banget, nggak ngasih kabar kalo mo pulang.. kapan datang?�spontan kupeluk dia sambil kupukul-pukul bahunya pura-pura marah
Bram : “hehehe..kemarin sore, sengaja bikin kejutan sama kamu, ih kamu nggak berubah ya.. kalo marah masih suka mukul-mukul.. sakit tauuk, gilaa.. makin kekar ajah kamu,beda sama 3 taon yang lalu kamu kalo mukul nggak sekeras ginih, hmm..pantes aja banyak cowok yang takut sama kamu ati2 lhoh.. nti kamu susah dapet pacar� kata Bram sambil meringis kesakitan
Deta : “ye.. biarin abisnya.. kamu suka gituh, senengnya bikin kaget orang ajah�
Bram : “hihihihi.. tapi kamu suka kan??� godanya masih dengan gayanya dia yang suka cekikikan
Deta : “hu.. GR, I don’t� kataku
Bram : “you do !!�bram tetep maksa
Deta : “I don’t..�kataku lebih ketus
Bram : “You do !! boong dosa lhohh� kali ini dia sambil ngedipin mata kirinya
tak tahan aku menahan tawa.. ya ampuunn masih lucu aja nih anak
Deta : “hahahah.. iya dehh iyaa, I do !!�
Bram : “Nahh,, gitu dong, bilang suka sama saya aja masih malu-malu� goda dia lagi

ughff.. lama-lama makin gregetan juga nih sama bram.. sukanya ngegodain mulu. Tapi seneng banget nih.. sobatku ini udah balik dr UK. Dia sobat dr kecil kebetulan rumahku sama rumahnya sebelahan jadi dr bayi udah sobatan sampe kita SMP..pas mo masuk SMU dia ikutan orang tuanya di UK, papahnya Bram dapat tugas belajar disana. Waktu itu aku begitu sedih banget ketika denger kabar itu, seharian aku nggak mau keluar kamar karena ngambek. Seisi rumah bingung, Ayah, ibu udah nggak tau lagi gimana membujukku keluar untuk makan. Akhirnya malem-malem bram nelpon dan menyuruh aku membuka korden kamar, kuliat bram udah berdiri di balkon dia mengancam kalo aku masih nggak mau keluar dr kamar dia mo loncat dari balkon rumahnya, meliat itu baru aku mau keluar kamar dan makan. Hihihi.. kalo inget kejadian itu jadi ketawa

Bram : “hey.. malah ngelamun� kata Bram mengagetkanku
Deta : “eh.eh.. enggak kok� Kataku gugup
Bram : “hahaha.. ketahuan kamu, ngelamunin apaan sih??� Tanya bram penasaran
Deta : “hihihi enggak.. tadi aku mendadak inget kejadian pas kamu mo pergi dulu, inget nggak? Waktu itu aku ngambek nggak mo keluar dr kamar�
Bram : “hahaha.. iya inget, trus saya membujuk kamu dengan ancaman mo lompat dr balkon kalo kamu nggak keluar kamar juga, ahahaha kamu tuh lucu dr kecil manjanya minta ampun.. kalo udah ngambek ampuunn dah semua seisi rumah pasti bingung�
Deta : “hehe.. padahal aku nggak takut lhoh sama ancamanmu, paling-paling juga boongan.. karena aku udah laper banget jadinya mau keluar kamar hahaha..� dalihku
Bram : “woo.. dodol !! kamu tau nggak sih kalo seisi rumah panik kalo sampe2 kamu seharian nggak makan kan berabe bisa-bisa kambuh tuh maag kamu�
Deta : “hihihihi.. lucu juga yah.. udah yuk lanjutin lagi joggingnya keburu siang nih� ajakku kemudian.

Kamipun melanjutkan acara joggingnya sambil tetep becanda-becanda. Sebenernya kami nggak pernah lost contact, selama 3 tahun Bram di UK kita masih sering kirim-kirim email, Chatting atau kadang Bram nelpon. Aku masih sering mampir kerumahnya buat nemenin Omanya bram yang udah aku anggep kek Nenekku sendiri. Sejak orang tuanya bram dan bram pindah ke UK oma cuman ditemenin oleh Mbok Nah dan Pak Jo pembantu dan sopir keluarganya.
1 hal yang nggak berubah dr bram adalah dia masih tetep menggunakan kata “saya� untuk menyebutkan dirinya.

Bram : “Hosh..hosh.. deeett.. udahan yuuuk capek niihhh� bram teriak minta udahan, payah tuh anak baru juga 1 putaran kompleks aja udah kecapekan.
Deta : “whaahh.. payah baru juga 1 putaran bram, ayoo lanjutt “ kataku masih bersemangat sambil ninggalin dia dibelakang.
Bram : “Udah yuuukk.. det� Kata bram dengan susah payah berusaha menyusulku

hehehe.. kasian juga tuh anak, ya udah deh akhirnya aku berhenti

Bram : “Det.. kerumah saya yuuk.. kamu kan blon ketemu sama mamah� ajak Bram
Deta : “Boleh.., kangen juga nih sama tante ella�

kamipun berjalan menuju rumah

Tante Ella : “detaa.. ya ampuun tante sampe pangling, kamu udah besar gini� Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara yang nggak asing lagi, ketika aku masuk rumahnya bram. Ternyata itu suaranya tante Ella mamahnya Bram.
Deta : “aahh. Tantee, deta kangen bangett kok tante jahat sih sama kek Bram nggak ngasi tau kalo mo pulang.. kan bisa Deta jemput di bandara kemaren� Kataku sambil memeluk tante Ella.
Tante Ella : “maaf sayang, jangan nyalahin tante dong.. tuh salahin sebelahmu itu, semua ini kan idenya dia katanya dia mo bikin kejutan sama kamu� Tante menjelaskan sambil nunjuk Bram.
Deta : “Huu.. kok tante mau-maunya sih diajak kompakan sama Bram? Hahaha…� kataku.. Bram malah cuman senyam senyum doang
Tante Ella : “Sini.. duduk sini nak, tante kangen sama kamu.. ngomong-ngomng tante juga blom sempet ke rumahmu gimana kabarnya Ayah ibumu??� Tanya tante ella sambil mengajakku duduk ruang tengah.
Deta : “Baik tante, wahh ibu pasti seneng deh denger tante dah pulang..Oma mana tante?� tanyaku kemudian sambil celingak-celinguk mencari Oma
Tante Ella : “Tuhh.. lagi bikin Kue Bram kangen sama kue bikinan Omanya.. jadi dia minta dibikin kue� Tanye Ella menjelaskan
Bram : “Det..kekamar yuukk.. aku mo nunjukin sesuatu sama kamu� ajak Bram
Deta : “ntar ya tante.. deta ke kamarnya bram dulu� aku minta ijin sama tante ella
Tante Ella : “iya.. tante juga mo nyiapin sarapan buat kalian dulu�
Aku lalu menyusul bram masuk kamar, mo nunjukin apaan sih tuh anak bikin penasaran ajah. Ketika aku membuka pintu kamar..
Bram : “Surprisseeee…!!!� teriak bram sambil membawa kue black forest yang diatasnya ada lilin berangka 18. Ya ampuunn.. aku bahkan lupa kalo hari ini adalah ulang tahunku
Deta : “braaamm..apaan sih ini, ternyata kamu masih inget ya hari ulang tahunku..aku aja lupa� kataku tak bisa menyembunyikan wajah kagetku
Bram : “selalu inget doong.. wah kamu payah sama ulang tahunnya sendiri aja nggak inget, jangan-jangan kamu juga udah lupa ma ulang tahun saya�
Deta : “enggak.. 16 november kalo punya kamu hehehe.. “
Bram : “Siip..ternyata kamu masih inget, and now close ur eyes and make a wish lalu tiup lilinnya� bisiknya kemudian
Akupun menuruti apa kata dia,
Bram : “Happy Birthday my cutty baby..� Kata bram lembut, Ghosh.. itu kan panggilan sayang bram kepadaku dulu
Deta : “bram..makasih banget, aku nggak nyangka pas dihari ulang tahunku kamu akan datang� kataku terharu
Bram : “Kan udah saya bilang detta..saya mo bikin kejutan buat kamu, oh iya ini buat kamu� Kata bram sambil menyodorkan sebungkus kado gedhe
Deta : “apa ini bram?� tanyaku penasaran ketika menerima sebungkus kado dr bram
Bram : “Buka ajah..� perintah bram
akupun membuka bungkusan kado gede dr bram, dan Oh my God.. aku terperanjat. Sebuah pigura besar yang ditempeli beberapa fotoku sama bram ketika masih kecil.
Deta : “Bram.. ini bagus banget, eh ini kan waktu kita ikut kejuaraan karate itu kan ya?� tanyaku sambil nggak lepas dr poto-poto yang ada di pigura itu.
Bram : “He`eh, dan ini inget nggak foto ini? “ kata bram sambil menunjuk ke salah satu foto aku sama Bram yang duduk di atas sepeda. Foto itu diambil sama Papahnya bram ketika bram baru aja dibeliin sepeda baru.
Deta : “Umur brapa ya waktu itu?� tanyaku
Bram : “hmm.. kalo nggak salah pas kita klas 1 SD, ahahaha.. inget nggak? Waktu itu kan kamu blon punya sepeda trus kita suka berebutan naek sepedanya�
Deta : “Iya ya.. eh tapi kan beberapa hari kemudian aku dibeliin sepeda, sejak itu tiap pulang sekolah kita selalu sepeda-sepedaan sampe badan kita item kena sinar matahari hihihi� aku mengingat-ingat
Bram : “Sampe kita SMPpun kemana-mana slalu pake sepeda kan det, latian bola, latian karate..kemana-mana slalu bersepeda� Bram menambahkan

Bram : “Eh iya ngomong-ngomong soal sepak bola..jadi inget dulu waktu kamu nggak diterima di tim sepak bola sekolahan gara-garanya kamu cewek� lanjutnya
Deta : “Oh iya.. trus kita nyari tim sepak bola yang bisa nerima cewek, tapi ternyata emang nggak ada, dan aku akhirnya ada ide pura-pura jadi cowok hahaha..�
Bram : “tul.. saya sibuk nganterin kamu ke tukang cukur buat motongin rambut kamu biar kek cowok, beli baju cowok, ngelatih kamu jalan ala cowok hehehe.. ada-ada aja ya?�
Deta : “Tapi kan akhirnya Pak Karmen pelatih sepak bola kita ketipu juga?� aku menambahi
Bram : “Ya iyalah..terang aja mereka percaya, tampang kamu tuh cowok banget waktu itu.. “
Deta : “Eh.. tapi akhirnya kan ketahuan bram.. pas kita latian aku nggak tau kalo aku dapat haid pertama huahuahuhau… Pak Karmen heran kenapa ada darah di ruang ganti� sampe di situ aku nggak bisa lagi nahan ketawa inget kejadian itu sampe air mataku keluar
Bram : “Huahuahuahua.. lalu kamu mengaku kalo cewek huahuahua`.. coba kalo kamu nggak Haid sampe sekarang kamu masih dikira cowok kaliii� Bram pun nggak tahan untuk nggak ketawa juga
Deta : “Yee.. tapi kan akhirnya tetep diterima juga walopun aku cewek kan bram..�
Bram : “ Iyalah.. kamu kan jago maen bolanya, sampe sekarang aja saya masih heran dulu waktu Ibumu hamil ngidam apa yah?? Kok anak ceweknya jadi tomboy kek ginih hihihi�

kami ketawa-ketawa mengingat-ingat kenangan masa kecil kami yang menyenangkan. Heeff.. banyak banget kisahku sama bram dr hal-hal yang lucu sampe sedihpun aku slalu sama bram.

Bram : “Eh.. ini ada fotoku sama si Toet-toet juga� aku teriak histeris ketika kulihat sebuah foto sama Toet-Toet kucingku yang sudah mati.
Deta : “Aku nggak tau bram.. kalo kamu punya foto ini� lanjutku
Bram : “Hehehe.. inget nggak waktu toet-toet mati keracunan, kamu sedih banget sampe-sampe kamu pengen tidur dideket makam toet-toet takut toet-toetnya kesepian�
Deta : “hahaha.. konyol banget ya kita dulu� kataku masih dengan menahan ketawa

Deta : “hmm.. bram� lanjutku
Bram : “ya??�
Deta : “kamu tau.. hari ini aku seneeeeng banget, akhirnya kamu kembali ke sini� kataku kemudian.
Bram : “Detta.. I’ve been waiting this time for so long..kamu tahu.. di UK saya nggak punya temen sebaik kamu, semanja kamu, sekonyol kamu, senorak kamu.. detta nggak ada duanya dah “ Kata Bram sambil tersenyum memperlihatkan lesung pipitnya

Bram : “Saya selalu kangen saat bersama-sama kamu di sini, latian bareng, maen bola bareng, brangkat sekolah bareng.. tiap kali saya kangen, saya liat foto-foto kita berdua akhirnya ada ide buat menyusun di pigura.. and see.. jadinya sepert ini??� jelasnya lagi sambil menunjuk pigura gede yang ada di tanganku.
Deta : “Iya bram.. aku juga slalu kangen kamu, Kalo aku kangen.. aku jadi slalu bicara sendiri sama bintang atau bulan nitip sampein salam buat kamu hehehe..� kataku kemudian
Bram : “Ah.. kamu mah dari dulu sampe sekarang masih aja norak ya? Hahaha..� Bram berkata sambil ketawa

Bram : “Hmm.. sekarang aku udah ada di sini Detta.. kamu nggak perlu takut-takut lagi kalo digodain sama segerombolan berandalan, nggak perlu takut kesepian lagi, Dan juga kalau kamu mau bicara sama bintang atau bulan udah ada temennya lagi..don’t be afraid I’m gonna be around you� Bram berkata dengan lembut sambil memegang tanganku, aku jadi terharu, “Kalo kamu sedih, kalo kamu butuh sesuatu you know where ever I`am..“ Jelasnya lagi.
Deta : “Iya bram.. sekarang aku nggak takut lagi, kan udah ada kamu� kataku sambil tersenyum
Kemudian kamipun berpelukan erat banget.. sampai-sampai nggak terasa air mataku dah mengalir. Terima kasih Tuhan.. akhirnya Bram udah kembali lagi di sini. Kita akan slalu bersama-sama lagi bram seperti waktu kita kecil dulu..


Sumber : Forum

[love story]CINCIN BERNAMA

Saat pertama melihat tampangnya, tak sedikit pun aku menduga bakal mengalami kecelakaan ini: jatuh cinta! Ia tidak tampan. Bahkan tampilan fisiknya boleh disebut kusut. Gondrong sebahunya pasti hanya sesekali disisir dengan jemari tangannya. Dan ketika hidungku hanya berjarak beberapa senti dari tubuhnya, tak ada yang bisa tertangkap selain aroma keringatnya yang berbaur dengan bau kerak nikotin yang sangat menyengat. Ia laki-laki yang selalu berasap.

Ia juga susah dimasukkan ke dalam kelompok laki-laki supel yang gampang akrab. Bahkan aku baru bisa bercakap-cakap dengannya dalam arti yang sesungguhnya setelah nyaris putus asa. Hari pertama, aku hanya mendapatkan senyuman hambarnya. Aku belum mendapatkan sedikit pun alasan untuk tertarik padanya. Hari kedua, kami baru berjabat tangan, dan kusebut namaku, dan ia sebut namanya.

"Ouw, aku sudah kenal nama itu. Kau cukup banyak menulis artikel seputar persoalan perempuan, kan?"

Aku sedikit terkejut, padahal sudah menduga sebelumnya jika ia akan berkomentar seperti itu setelah kusebut namaku.

"Aku juga cukup banyak membaca tulisan-tulisanmu," kataku, yang kemudian dia sambut dengan ucapan terima kasih. Padahal, di dalam hati aku berkata, "Sayang, kau tak sehangat tulisan-tulisanmu. Kupikir kau orangnya hangat, menarik, tak akan pernah kehabisan bahan cerita. Eh, ternyata nyaris gagap di "darat"! Laki-laki yang tidak menarik!"

Tetapi kekecewaanku lebih dari sekadar terobati ketika menyaksikan penampilannya di depan forum. Di antara moderator dan tiga orang pemakalah yang dipanelkan di dalam sesi itu, ia benar-benar jadi bintang. Tiba-tiba aku melihat dia dengan wajah baru, dengan kesegaran baru, dengan semangat baru. Dia tidak lagi gagap, bahkan terkesan garang, walau tidak segarang tulisan-tulisannya yang selama ini aku kenali (catatan: kemudian aku tahu bahwa sekian banyak tulisannya tidak aku kenali sebagai tulisannya karena dia menulis dengan beberapa nama samaran). Tiba-tiba aku melihat auranya menjadi sedemikian cemerlang. Ia menjadi sangat menarik, bahkan sangat merangsang! Aku pun kasmaran. Benar sekali kata Diat, temanku, bahwa bagian tubuh paling seksi itu adalah otak!

Maka, begitu ia turun dari tempatnya, aku ikutan menghambur untuk menyalaminya, mengucapkan selamat atas kesuksesannya sebagai pembicara, dan yang paling penting adalah memuaskan diri, menghisap aroma keringatnya yang tak jadi soal lagi walau berbaur dengan bau kerak nikotin yang sangat menyengat itu. Ini hari keempat. Dan pada hari keenam, aku harus sudah meninggalkan kota dengan segudang sebutan ini: Kota Budaya, Kota Pelajar, Kota Gudeg, Kota "Seks in the Kost".*)

Hari kelima, waktu istirahat dan makan siang, aku sudah menjadi akrab dengannya. Dari sorot matanya aku tahu betul bahwa diam-diam ia pun mengagumiku. "Pertanyaanmu tadi sangat cerdas," pujinya. Aku tidak terkejut, tetapi sedikit kecewa. Aku ingin ia bilang aku cantik. Ah!

Lalu kami berdiskusi sambil makan, minum, dan sebentar kemudian ia menjadi laki-laki berasap. Rokoknya sambung-menyambung. Tetapi anehnya, aku makin kerasan berada di dekatnya. Waktu pun seperti makin bersicepat. Hanya tinggal satu hari satu malam kesempatan tinggal di tempat yang sangat menyenangkan ini.

"Setelah ini inginmu masuk ke ruang apa?" tanyaku tiba-tiba, dan aku pun kaget sendiri, membayangkan dia tahu persis apa motivasi pertanyaan itu.

"Sebenarnya aku sudah sangat jenuh. Mereka hanya mengulang-ulang kalimat-kalimat lama. Persoalan-persoalan lama. Lagu lama. Aku sih pengin jalan-jalan saja. Esok sudah hari terakhir. Tapi…."

"Boleh aku ikut?"
"Oh, ya? Sebenarnya aku mau ajak Titok, tetapi dia pulang tadi pagi, ditelepon istrinya. Katanya ada sesuatu yang penting yang mesti cepat ia selesaikan."
"O, Titok yang dari Solo itu, ya?"
"Ya. Kenal dia?"
"Kenal, terutama dari tulisan-tulisannya."
"Ya, aku juga suka membaca tulisan-tulisannya. Aku juga baru mengenalnya secara langsung di sini, terutama karena harus sekamar dengannya."

Sebentar kemudian kami sudah berada di sebuah taksi. Keliling kota. Turun di warung ikan bakar, makan sama-sama, lalu jalan kaki sama-sama. Lelah, naik taksi lagi, turun, jalan-jalan lagi, begitu entah sampai berapa kali ganti taksi. Lalu, tiba-tiba kami sudah berada di pusat kota. Orang bilang, belumlah sempurna mengenal kota ini tanpa pernah menyusuri jalan yang satu ini.

"Jika aku ingin memberimu tanda mata, apa yang kauinginkan?" demikian pertanyaannya, sangat mengejutkanku! Dan yang lebih mengejutkanku lagi adalah jawaban spontanku, "Cincin!"

"Oh, ya?"
"Tapi bukan cincin emas. Aku menginginkan sebentuk cincin perak. Kau mau membelikannya untukku? Lalu, sebagai kenang-kenangan dariku, apa yang sebaiknya kubeli untukmu?"
"Cincin."
"Ha?"
"Aku sudah punya cincin emas, aku juga ingin punya cincin perak, yang di lingkar dalamnya terukir namamu."
"Hah…?"
"Apakah permintaanku berlebihan?"

Aku tidak memberikan jawaban berupa kata-kata untuk pertanyaan itu. Tetapi kemudian aku penuhi permintaannya dan dipenuhi pula permintaanku. Kami, masing-masing mendapatkan sebentuk cincin "bernama". Ada namaku pada cincin yang kubeli untuknya, dan ada namanya pada cincin yang dia beli untukku. Aku merasa sangat senang, jika terlalu berlebihan untuk disebut bahagia. Rasanya seperti ketika waktu kanak-kanak dulu mendapatkan baju baru, atau hadiah menarik dari ayah atau ibu. Hatiku berbunga-bunga. Bunga warna-warni: merah, kuning, putih, biru. Aku hampir saja melompat ke dadanya yang kerempeng itu. Coba, jika benar itu kulakukan dan kemudian ia terjengkang dan terkapar dalam keadaan aku bertahta di atas dadanya, betapa konyolnya. Hahaa, sebenarnya aku ingin mengatakan, "Betapa dramatiknya!"

Kemudian tibalah saat yang menyedihkan itu. Acara berakhir, dan aku harus berpisah dengannya.

"Kau selalu di hatiku," gombalnya.
"Ah, terlalu dalam. Aku ingin berada di atas dadamu saja," lucuku.
Tetapi dia tidak tertawa. Aku juga. Kami benar-benar bersedih.
"Jangan bosan-bosan membalasnya, aku akan rajin mengirimimu SMS," pintanya.
"Tentu. Bisa jadi aku akan lebih rajin mengirimimu."
"Ya, kirimkan rindumu padaku."
"Tentu!"

Di bandara kulihat matanya berkaca-kaca. Sayang, kami harus menaiki pesawat yang berbeda. Ada keharuan yang mendesak-desak ketika kami saling melambaikan tangan. Sama-sama melambaikan tangan kiri, sekalian untuk saling meyakinkan bahwa kami memakai cincin bernama itu di jari manis kami. Aku yakin dia tidak sedang berbasa-basi. Seperti aku, tidak sedang berbasa-basi. Kini, aku sedang melayang-layang menyibak gugusan awan, lalu menukik tajam, bagai tersedot mulut jurang tanpa dasar itu: cinta!

Berlama-lama aku memandangi sebentuk cincin yang melingkar di jari manisku ini. Lalu kulepas, kupandangi deretan huruf di lingkar dalamnya, sebelum kemudian kupakai lagi, kulepas lagi, kupakai lagi. Pikiran dan perasaanku menjadi sangat sibuk. Seolah aku sudah tidak kuasa mengendalikan diri. Tiba-tiba aku sudah menyalakan komputer.

"Thing, thung, thing."
Ouw! Itu suara ponselku jika menerima SMS.
"Aku mulai gelisah, cemas, dan merasa kesepian. Aku merindukanmu!"
"Oh, aku juga."
"Aku yakin, aku sangat mencintaimu."
"Rasanya, aku juga."
"Oh, ya? Kita menikah saja, ya?"
"Hm, secepat ini kaubuat keputusan? Aku takut kau sedang mabuk."
"Mabuk? Aku tak suka minum."
"Mabuk asmara, maksudku."
"Ah, percayalah padaku."
"Aku percaya. Tetapi kapan kita akan menikah?"
"Sekarang juga!"
"Ha…? Sekarang…?"
"Ya. Kunikahi kau dengan segenap cintaku. Tak sabar lagi aku untuk memanggilmu sebagai istriku."
"Ya, kuterima cintamu. Aku bersedia menjadi istrimu, suamiku!"
"Oh, istriku.!"
"Ya, suamiku!"
"Chpmshshmmmm..!"
"Mmmmuac!"
Lagi, di depan komputer, berlama-lama kupandangi sebentuk cincin yang melingkar di jari manis ini. Lalu, kulempar ke dalam keranjang sampah sekantung cincin bernama yang kubangga-banggakan selama ini. Dan sambil sesekali membalas SMS "suamiku", aku pun mulai menulis, "Saat pertama melihat tampangnya, tak sedikit pun aku menduga bakal mengalami kecelakaan ini: jatuh cinta! Ia tidak tampan


Sumber : Forum

[love story]Terima Kasih BALI ku

Sebel ! Lina memang keterlaluan, masa yang dia pikir cuma kepentingannya sendiri. Mentang-mentang udah satu bus sama Kevin terus aku dilupain begitu aja. Bayangkan, selama ini aku banyak berkhayal tentang saat-saat indah bersama Ferdi di Bali, eh tahunya si Lina bego itu mengacaukannya dengan sangat sempurna. Bukannya berhasil satu bus sama Ferdi, aku malahan satu bus sama Tonny yang usil itu. Wah, berantakan deh rencanaku !

Sejak Lina, ketua kelasku, gagal memenuhi permintaanku untuk ditempatkan satu bus dengan Ferdi, aku jadi malas mikirin liburan ke Bali nanti. Apa asyiknya piknik tanpa dekat sama doi ? Ah, mestinya yang menentukan susunan bus jangan cuma ketua kelas. Mestinya tiap anak bebas nentuin sendiri bus pilihannya.

Jumat, 14 Juni 1996. Nanti siang aku akan berangkat ke Bali. Meskipun temen-temen pada asyik nyiapin acara di sana, aku sama sekali sudah nggak tertarik. Liburan yang sudah kutunggu sejak awal Cawu 2 yang lalu kini tiba-tiba tampak begitu hampa bagiku.

Noni : "Ken, ngapain ngelamun ? Hayo, ngebayangin Ferdi ya ?" sapa Noni membuyarkan lamunanku.
Niken : "Sialan ! Bikin kagen saja kamu Non."
Noni : "Hey, kalau kamu terus pasang tampang kusut kayak gitu mana mau si Ferdi ndeketin kamu. Mestinya kamu banyak pasang smile yang manis biar tuh cowok pada lengket. Eh, denger-denger Ferdi satu bus sama Ella, ya ?"
Niken : "Hah ?! Yang bener aja Non !"
Noni : "Serius ! Emang ngapain aku mesti bohong ?"

Nggak pake nunggu dikomando lagi aku langsung ngacir ke papan pengumuman. Dengan penuh rasa penasaran kubaca daftar nama anggota bus IV, busnya Ferdi (eh kapan belinya ?). Ella Paramitha ! Aku langsung lemas membaca nama itu.

Ampun deh ! Si Ferdi mau ditaruh bareng siapa saja sebenarnya nggak masalah buatku. Tapi Ella ... cewek centil itu bakalan punya banyak kesempatan untuk ngerayu Ferdi, cowok idamanku sejak kelas satu.

Ah seandainya Ferdi sudah resmi jadi pacarku. Seandainya aku nggak usah punya saingan. Seandainya aku satu bus sama Ferdi. Seandainya ... (soal berandai-andai aku nggak kalah dibanding Oppie lho !)

Siang ini, persisnya pukul 12.15 aku udah stand by di sekolah. Kuhabiskan waktuku dengan ngobrol santai sama Noni. Lumayan buat ngelupain kedongkolan.

Ketika Ella datang dengan pakaian pink model "you can see"-nya yang kekurangan bahan, beberapa cowok langsung menghampirinya. Ih, norak ! Moga-moga aja Ferdi bukan tipe cowok kayak gitu.

Nggak berbeda dari perkiraanku, keberangkatan bus kali ini molor lagi seperti biasanya. Entah apa lagi alasan para guru kali ini, tapi yang pasti kudengar bahwa pengaturan pembagian konsumsi dan obat-obatan tiap bus masih kacau bin acak-acakan. Heh, kalau pihak sekolah aja nggak bisa tepat waktu, apalagi muridnya. Gitu kok tega-teganya main skors sama anak yang telat masuk, nggak sportip tuh !

Bus baru berangkat ketika kepalaku udah mau meledak kepanasan. Terik di siang bolong ini bener-bener menyiksaku. Untunglah bus ini ber-AC, dalam beberapa menit kepalaku udah rada cool kembali.

Noni : "Ken, mau permen ?" Noni mengulurkan sekaleng permen kepadaku.
Niken : "Buset ! Ngapain lu bawa permen sebanyak ini ?"
Noni : "Pernah baca kalo banyak makan permen bisa bikin face kita tambah manis ?"
Niken : "Belum. Teori apaan tuh ?"
Noni : "Nggak tahu. Aku juga belum pernah baca."

Aku dan Noni tertawa. Kuambil lima permen dari kaleng Noni. Buat persediaan, pikirku.

Jefry : "Kamu yang bernama Niken, ya ?"
Niken : "Iya."
Jefry : "Kenalan dong, saya Jefry."

Setengah kebingungan kusambut juga uluran tangan dari cowok yang bernama Jefry itu. Heran, rasanya agak ganjil ngajak kenalan di dalam bus pada tengah perjalanan begini. Tapi ... peduli amat ! Setidaknya dia masih lebih sopan dari Tonny cs yang rada brutal itu.

Noni :"Ehem ! Kenalan apa "kenalan" ?" goda Noni yang duduk di samping kananku sambil tersenyum.
Niken : "Biarin ! Emang lu ngiri ?"
Noni : "Enggak. Kita udah kenal dari dulu ya Jef ?!" kata Noni melihat ke arah Jefry.

Sialan ! Aku di-sekak mat lagi sama Noni.

Ternyata cowok yang berlabel Jefry itu enak juga diajak ngomong. Dia punya banyak kesamaan dengan Ferdi. Sayangnya cuma satu, tampangnya nggak memenuhi syarat. Jauh berbeda dibanding Ferdi yang kereeen banget.

Ketika hari udah mulai gelap (abis dinner semrawut di Tuban), aku melirik jam tanganku. Astaga, arlojiku mati ! Gawat nih, berarti aku harus sering nanya sama Noni.

Sementara yang lain pada sibuk ngobrol, aku lebih memilih untuk tidur di kursiku. Biar aja mereka bergadang semalaman, besok pagi KO baru tahu rasa tuh !

Sabtu, 15 Juni 1996. Pukul 4.23 aku bangun (menurut jam tangannya Noni). Ketika bus berhenti di pompa bensin, beberapa anak cowok (Tonny cs) pada sikat gigi di belakang bus pake air aqua. Amit-amit ! Dasar nggak tahu malu !

Aneka macam aroma sudah berpadu menjadi satu dalam bis. Empat puluh tiga siswa dan tiga orang guru yang semuanya belum mandi itu pada mengeluarkan bau-bauannya sendiri. Hasilnya, aku langsung mabok !

Iseng-iseng aku turun dari bus yang sedang berhenti itu. Ternyata banyak juga yang seide denganku. Langsung aku bergabung sama Noni, Tika, dan Putri yang kayaknya sudah asyik ngegosip dari tadi.

Niken : "Halo semua !"
Noni : Selamat pagi, tukang tidur !"
Niken : "Lho ??"
Noni : "Iya tuh, kemarin ketika kita masih asyik ngobrol kamu udah tidur duluan. Pagi ini kamu juga yang paling telat bangunnya. Kayaknya matamu maunya merem terus ya ?"

Ucapan Noni segera disambut tawa oleh yang lain. Aku sih nggak begitu peduli. Mataku mulai sibuk berkelana ke sekeliling. Ah, di sana Lina lagi berdua sama Kevin. Lengket banget tuh anak ! Aku melihat beberapa anak berkumpul di samping bus empat. Astaga, si centil itu lagi gandengan sama Ferdi !

Noni : "Hey, ngapain pagi-pagi ngelamun ?" tanya Noni sambil mendekat ke arahku.
Niken : "E-enggak apa-apa," sahutku agak gugup.

Noni diam sebentar. "Oh, karena itu ya ?!" tanyanya sambil menunjuk ke arah Ferdi dan Ella.

Pertanyaan yang satu ini tidak kujawab. Heran, bisa-bisanya anak ini menebak pikiranku.

Noni : "Niken, santai aja deh ! Cowok nggak cuman satu doang kok ! Kalau memang suka, Ferdi pasti akan kembali pada kamu. Hukumnya kan cowok yang pendekatan ke cewek. Jangan dibalik dong !"
Niken : "Yah, sesukamu lah !" aku menjawab lirih.

Dengan langkah gontai aku berjalan kembali ke bus tiga (bus-ku). Hilang sudah seleraku untuk ikut bergembira.

Putri : "Lho, kok langsung balik. Ngapain Ken ?" Putri memanggilku dengan gaya khasnya.
Noni : "Ssst ! Jangan diganggu ! Niken lagi frustasi !" Noni menukas sekenanya.

Aku cuek aja. Pokoknya balik ke bis terus bobok lagi, titik !

Belum puas aku tidur, tahu-tahu udah ada gangguan lagi. Semua anak diminta turun dari bis dan menuju lantai dua dari kapal JL Ferry yang kunaiki. Segera saja kusambar kamera setiaku sebelum turun.

Wih ! Ternyata pemandangan laut saat matahari terbit bagus juga ya ? Setelah membidik dua buah gambar sunrise dari lantai dua, aku terus naik ke lantai tiga.

Baru beberapa langkah berjalan di lantai tiga, mataku menangkap pemandangan yang tak kuharapkan lagi. Huh ! Kayaknya Ella bener-bener memanfaatkan kesempatan yang diperolehnya kali ini dengan baik. Dia sama sekali nggak mau lepas jauh-jauh dari Ferdi.

Daripada ngeliatin keakraban mereka terus-terusan, aku langsung aja balik turun ke lantai dua.

Bruk !

Tak sengaja aku menabrak seseorang.

Niken : "Oh, sori, aku nggak sengaja !"
Jefry : "Sudahlah, nggak masalah !"

Astaga, barusan aku menabrak Jefry ! Duh, malu banget rasanya.

Jefry : "Abis dari atas ?"
Niken : "Iya tuh."
Jefry : "Aku baru mau naik. Ikut nggak ? Di lantai dua nggak rame !"

Kalo dipikir pake akal sehat mestinya aku menolak ajakan itu. Tapi entah kenapa, kali ini aku justru menanggapi ucapan Jefry. Barengan kami naik lagi ke atas. Yah, kuakui dalam hati kecilku ada sedikit niat balas dendam. Biar Ferdi tahu kalo bukan cuma dia yang bisa cari gandengan. Aku jahat ya ??!?

Ketika melewati Ferdi dan Ella, aku sengaja merapatkan diri ke arah Jefry. Aku yakin pasti si Jefry cukup kebingungan kerena tingkahku. Biarin !

Turun dari kapal ferry, rombongan sekolahku segera rnenuju ke tempat wisata Tanah Lot, sasaran pertama kami. Berbagai lagu gembira mulai diputar di dalam bus.

Tujuan telah tiba. Kami segera turun dan ... aku benar-benar takjub akan keindahan pantai ini ! Jelas pantai Tanjung Emas di Semarang nggak bisa dibandingkan dengan pantai ini (emangnya lomba ?!).

Noni mengajakku untuk bergabung bareng para cowok. Lebih seru, katanya. Aku sih ngikut aja. Netral nih !

Setelah mengambil beberapa pose bersama di depan kamera, kami segera balik ke bus. Habis sudah dipanggil sih. Acara fato-fotonya cukup rame lho, Putri, Nia, Lina, dan Kevin ikutan bergabung nampang bareng.

Sudah capek dari Tanah Lot sebenernya aku maunya langsung ke hotel trus mandi. Kalo diitung-itung, saat ini aku dan teman-teman sudah lebih dari 24 jam nggak mandi. Bayangin deh rasanya ! Tampangku pasti udah jadi kusut dan acak-acakan.

Ternyata apa yang kuharapkan jauh dari kenyataan. Bukannya ke hotel, rombongan kami rnalah mangkal di depan warung makan eh rumah makan . Bukan mau nyombong nih ! Dari semula aku emang udah siap rnental bahwa makanan selama wisata ini pasti seadanya (maklum, paket wisata murah), tapi yang kujumpai di sini bener-bener di bawah standar ! Udah makanannya gak dikasih bumbu, piringnya nggak dicuci, ternpatnya pun amburadul plus kotornya bukan main ! Jadinya, jangan heran kalo temen-temen dan aku pada ngomel semua. Secara singkat dapat kuutarakan bahwa acara rnakan kali ini nggak layak, begitulah !

Untunglah seusai makan rombongan segera menuju ke hotel. Kalo enggak bisa-bisa aku demonstrasi. Heran, para cowok itu kok nggak ada yang berani buka suara untuk protes.

Hotelnya lumayan lho ! Lebih baik dari dugaanku semula setelah makan siang. Begitu sampai di kamar, aku langsung aja mandi. Segarrr ! Nah, kalau sudah begini acara ke manapun aku udah ready Iagi.

Abis mandi, kusempatkan diriku untuk mengambil beberapa foto di seputar hotel (biasa, buat dokumentasi pribadi). Setelah lima temen sekamarku se lesai mandi semua, kami berenam kembali ke bis bareng-bareng untuk selanjutnya meluncur ke Joger, pusat T-shirt dan cenderamata yang semuanya dibubuhi kata-kata mutiara ala mereka sendiri yang menurutku agak "silly". Kuakui, desainer pabrik kata-kata ini bener-bener memiliki rasa humor yang tinggi. Sayang, harga barangnya mahal nggak karuan ! Nguras isi dompet aja.

Lepas dari Joger, aku terus ke pantai Kuta jalan kaki bareng Noni, Lina, Putri, Kevin, dan Jefry. Karena bareng-bareng, jarak ke pantai yang mestinya cukup jauh itu jadi nggak terlalu terasa.

Acara selanjutnya adalah makan. Aku terus berharap semoga kali ini kualitas makanan dan kebersihannya lebih baik.

Pucuk dicinta ulam nggak mau tiba. Tragedi siang tadi terulang lagi. Yah, kayaknya selama beberapa hari ini aku rnesti siap nahan lapar dikit. Itung-itung nyuksesin program diet.

Ketika rombongan sampai ke hotel, hari udah mulai gelap. Gak peduli airnya dingin, aku nekad mandi lagi biar seger.

Putti : "Ken, main ular tangga yuk !" ajak Putri.
Niken : "Hmm, okelah !"
Noni : "Ken, aku sama Tika mau ngobrol-ngobrol sama kelompok cowok. Ikutan nggak ?" tiba-tiba Noni menepuk pundakku.
Nia : "Lho, tadi kan katanya di lantai satu ada pertunjukan tari. Pak Sapto menyuruh kita turun lho !" Nia yang baru saja selesai rnandi menimpali.
Noni : "Cuek cuek amat. Kalo para guru mau liat tarian ya liat aja sendiri. Kenapa musti pake ngajak kita-kita segala ? Gimana Ken, jadi ikut ?"
Niken : "Sori Non, aku rada capek. Aku di sini saja sama Putri."

Keputusan sudah diambil. Kami sekamar terbagi menjadi tiga kelompok. Aku dan Putri main ular tangga di kamar. Noni dan Tika nggabung sama para cowok. Nia sama Nova nonton tari.

Minggu, 16 Juni 1996. Pagi-pagi aku bangun (nggak sempet liat jam). Nia, Nova, sama Tika udah nggak di kamar. Pasti anak-anak yang beragama Katolik udah pada berangkat ke gereja, pikirku.

Niken : "Pagi, Non !"
Noni : "Pagi juga !" jawab Noni yang abis keluar dari kamar mandi.
Putri : "Nah, sekarang giliranku mandi." Putri yang sedari tadi udah bawa-bawa handuk langsung rnasuk.
Noni : "Niken ..."
Niken : "Apa, Non ?"
Noni : "Enggg, ada satu kabar yang harus kamu ketahui, tapi ..."
Niken : "Tapi apa ?" tukasku tak sabar.
Noni : "Ssst ! Jangan keras-keras ! Nanti kedengaran Putri."
Niken : "Uh, rahasia ya ?"
Noni : Ini tentang Ferdi."

Aku yang tadinya santai langsung jadi serius begitu mendengar nama yang satu ini.

Niken : "Ferdi kenapa ?"

Noni terdiam sesaat. Hal ini membuatku lebih penasaran lagi.

Noni : "Kemaren malam kan aku bergabung ama kelompoknya cowok. Kita ngobrol-ngobrol sampe agak malem."
Niken : "Trus ...??"
Noni : "Terus tadi malam aku dapat kabar."
Niken : "Kabar apa ?" Aku memburu penuh selidik.
Noni : "Si Ferdi sama Ella ... Mereka udah jadian."
Niken : "Hah ?!? Sejak kapan ? Kenapa nggak ada yang tahu ? Kenapa bisa begitu ?"
Noni : "M-mereka udah jadian seminggu sebelum kita berangkat liburan ke sini. Makanya sejak kemaren mereka berdua lengket terus."

Seluruh badanku menjadi lemas seketika. Seandainya yang menyampaikan berita ini bukan Noni, sedikitpun aku nggak bakalan percaya. Tapi ...

Noni : "Ken, nggak usah terlalu bersedih. Kalau saja aku tahu sebelumnya, aku pasti akan memberitahukanmu."

Kalau saja saat ini aku lagi sendirian di kamar rumahku, aku pasti akan menjerit sekeras-kerasnya. Lenyaplah sudah semua angan dan harapanku selama ini. Mengapa aku begitu *Censored mengharapkan sesuatu yang tak mungkin dapat kuraih ?

Jefry : "Halo Noni, udah rapi ya ?!" Jefry dan Thomas tahu-tahu sudah berada di depan pintu yang memang agak terbuka sedikit.
Noni : "Hey, tahu nggak, anak cowok nggak boleh kemari ! Sana keluar !"
Jefry : "Idih sewot. Perempuan nggak boleh galak kayak gitu. Kalo nggak percaya tanya aja ama Niken. Betul ya, Ken ?!"

Aku tidak memberi jawaban. Kulihat Noni memberi isyarat pada Jefry untuk tidak menggangguku. Kedua cowok tadi segera keluar dengan diikuti oleh Noni. Karena Putri sudah selesai, aku langsung aja nyiapin peralatan mandi.

Acara tour di Galuh dan Sukowati sama sekali tak bisa kunikmati. Aku cuma beli beberapa kaos limaribu-an buat oleh-oleh mami dan adik-adik. Sambil memilih, pikiranku masih terus melayang-layang entah ke mana.

Tanpa bicara sepatah katapun, aku hanya duduk diam di kursiku. Bus sudah mulai berjalan menuju ke Pura Besakih, sementara Noni pindah ke tempat duduk kosong di belakang untuk ikut guyonan bareng Tonny dan konco-konconya.

Jefry : "Kamu sakit ? Kok dari tadi pagi diem aja." Jefry rnenghampiriku.
Niken : "Enggak apa-apa kok."
Jefry : "Kemaren kamu nggak begini. Kalo emang nggak ada apa-apa ikutan happy happy sama kita dong !"
Niken : "Sori Jef, aku lagi nggak pengin."
Jefry : "Hmm, ada masalah ya ?! Aku boleh tahu nggak ? Siapa tahu aku bisa bantu."

Kutatap mata Jefry. Kulihat ada kesungguhan di dalamnya.

Niken : "Aku nemang lagi ada problem. Kalo kamu mau tahu aku nggak keberatan selama kamu janji bisa pegang rahasia. Tapi, kurasa kamu tetap tak akan bisa membantu."
Jefry : "Yah, setidaknya bercerita pada orang lain kan sedikit banyak bisa me ngurangi beban pikiranmu. Bukankah itu sudah merupakan satu bentuk bantuan ? O iya, boleh aku duduk ?"
Niken : "Duduk aja, nggak ada yang ngelarang kok !"

Jefry duduk menyebelahi aku. "Nah, sekarang kamu bisa mulai cerita."

Secara ringkas kuceritakan tentang "perasaan khusus"-ku pada Ferdi. Lalu tentang berita yang kudengar dari Noni tadi pagi. Tidak semuanya aku ceritakan. Tentu saja ada beberapa bagian yang kusensor. Bagaimanapun aku belum mengenal Jefry cukup lama untuk bisa mempercayainya seratus persen. Hanyalah karena ia kelihatan serius ingin membantu, maka aku bercerita kepadanya.

Sepanjang perjalanan aku dan Jefry saling bertukar pikiran. Heran, kayaknya Jefry jauh lebih dewasa daripada penampilannya yang terkesan sekenanya itu.

Besakih sudah dekat. Kita disuruh nerusin perjalanan dengan jalan kaki karena bus sudah tidak diizinkan masuk lebih dekat lagi.Aku yang kini mulai agak happy kembali segera mengambil kamera, lalu turun.

Ternyata jalan ke Besakih masih lebih jauh dari yang kubayangkan, apa lagi kalo jalan kaki. Tapi nggak jadi soal karena Jefry masih betah nemenin aku. Sambil jalan, dia banyak cerita yang lucu-lucu sehingga aku tertawa juga.

Noni : "Niken ! Hayo lagi ngapain ya ?!" suara Noni terdengar dari belakang.

Aku menoleh. Ya, emang Noni yang bicara. Dia lagi bareng-bareng sama Tika, Tonny, Kevin, dan Donny.

Jefry : "Kev, ingat Kev, ini kita mau ke pura. Jangan berpikiran yang macam macam !" Jefry tersenyum kecil.

Aku dan Jefry ikut bergabung dalam kelompok mereka. Selanjutnya kita jalan bareng-bareng. Lebih rame dan heboh ! Sampe-sampe kita diliatin beberapa penjual aqua di tepi jalan.

Noni : "Waaah Ken, baru beberapa jam udah dapet ganti nih ?!" bisik Noni.
Niken : "Hussh ! Ngawur !"
Noni : "Alaa, masak sama aku kamu nggak rnau ngaku. Si Jefry keren juga kan?"
Niken : "Non, klta tadi cuma ... "
Noni : "Melakukan pendekatan !" tukas Noni cepat.
Niken : "Hey, jangan keras-keras ! Nanti orangnya denger."
Noni : "Oke deh ! Kamu boleh aja pura-pura tidak suka. Nanti lama-lama kan ketahuan sendiri."

Aku cuma geleng-geleng kepala mendengar kicauan Noni yang nggak karuan arahnya itu.

Pura Besakih yang terkenal itu ternyata memang sehebat namanya. Begitu kagumnya aku sampai-pampai delapan gambar kujepret dengan kameraku. Selanjutnya, kisah kunjungan ke danau Batur juga nggak jauh berbeda.

Sama semrawutnya, sama ramenya, sama hebohnya. Hehehe, anak muda sih.

Karena perut udah main orkes aementara tour yang nggak beres ini belum juga nyediain makan, maka acara menikmati panorama danau berubah jadi makan siang. Singkatnya, sore itu para penjaja mie bakso di Kintamani panen besar.

Mestinya hari ini kita masih harus ke Istana Presiden Tampak Siring. Tapi dengan alasan waktu yang tidak memungkinkan, pihak tour membatalkannya tanpa memberi ganti rugi. Buset, mestinya kekacauan tour ini dalam mengatur waktu harus dipublikasikan di koran-koran. Biar tahu rasa !

Bagaimanapun, segala kekesalanku terhadap penyelenggara wisata ini akhirnya sirna oleh pesona tari Barong yang kusaksikan pada malam harinya di Batu Bulan. Sayang, film kameraku udah abis. Jadi aku nggak bisa ikutan main potret.

Usai nonton Barong aku bener-bener udah capek. Makanya begitu kembali ke bus aku langsung tidur. Ketika bangun, tahu-tahu bus sudah parkir di halaman hotel. Yah, tidur sebentar lumayan lah !

Malam ini berbeda dengan malam sebelumnya, Kali ini aku ikut bersama Noni dan Tika untuk ngobrol bersama sampai malam dengan teman-teman yang lain, termasuk Jefry. Wih, kayaknya si kalem yang satu ini mulai menarik perhatianku.

Suasana ngobrol malam ini bener-bener ceria. Ketika aku sempat ngeliat jam, jarum arlojinya Noni yang berwarna biru itu baru menunjuk pukul setengah sepuluh.

Noni : "Jef, sampe hari ini kamu udah abis duit berapa ?" Noni bertanya.
Jefry : "Tauk ya, mungkin sekitar lima puluh. Aku nggak banyak beli barang sih !"
Noni : "Aduh, aku udah abis sekitar seratus sepuluh ! Waah, berarti harus segera diadakan program penghematan nih ! "Kalo kamu abis berapa Ken ?"
Niken : "Delapan puluh tiga tibu enam ratus lima puluh," jawabku pasti.
Noni : "Buset, teliti amat ! Emangnya kamu mencatat semua pengeluaranmu ?"
Niken : "Jelas dong ! Calon akuntan harus begitu !"

Jefry dan Noni tertawa.

Acara dilanjut dengan main kartu. Kevin sih rnaunya poker. Tapi karena yang cewek pada nggak bisa, maka disepakati main empat-satu. Trus, karena pesertanya kebanyakan, dua belas anak yang hadir dibagi menjadi tiga kelompok sesuai dengan jumlah set kartu yang ada.

Jefry terang aja bergabung sama kelompok cowok. Sementara itu aku, Noni, Tika, dan Vera main kartu sendiri dalam satu kelompok. Dan, seperti biasa, yang namanya cewek tiap ngumpul pasti ngerumpi. Habis suka sih !

Vera : "Ken, sepertinya si Jefry itu ada rasa sama kamu lho ! " Vera membuka percakapan.
Noni : "Tuh kan ! Apa kubilang ?" Noni menimpali.
Sisca : "Padahal mereka barusan kenalan di bus dua hari yang lalu lho ! Sekarang langsung jadi akrab. Kayaknya si Niken juga suka. Iya nggak Ken ?" Suara Sisca yang lagi pilek itu kedengaran lucu sekali.

Aku cuma senyum-senyum saja mendapat serangan bertubi-tubi dari tiga makhluk di dekatku ini.

Sebenarnya, kalau dipikir-pikir omongan Tika tadi bener juga lho ! Selama ini meskipun sama-sama di kelas dua, aku belum saling kenal sama Jefry. Maklum, aku memang bukan tipe orang yang punya banyak kenalan cowok seperti Voni dan Tika.

Noni : "Hey, jangan ngelamun Ken ! Itu kartunya mau diambil nggak ?"

Main kartu ternyata nggak begitu asyik. Setelah satu game, kami kembali ngobrol seperti semula. Dan ... Jefry langsung ngedeketin aku lagi (bukan nya ge-er nich !).

Noni : "Hey, Jef, Ken, kalian duduknya kurang deket tuh !" Noni memancing.
Jefry : "Ah, enggak ya Ken ?" jawab Jefry kalem.
Noni : "Alaa, nggak usah malu-malu deh ! Kita udah tahu kok !"
Niken : "Enak aja ! Tahu apaan ?" sergahku.
Noni : "Tahu ini nih !" jawab Noni lagi sambil membentuk simbol hati dengan jarinya.

Mukaku langsung bersemu merah rnendengar jawaban Noni. Kukira Noni pun tidak menduga kalau gurauannya ditanggapi Jefry dengan serius. Maka yang terjadi selanjutnya sungguh di luar perkiraanku. Di hadapan Noni dan kawan-kawan lainnya, Jefry berterus terang kalo dia suka sama aku. Dan, hebatnya lagi ... aku menerimanya !

Kalo sudah begini jangan nanya sebabnya deh, emang cinta itu buta ! Banyak orang nekad berbuat yang aneh-aneh demi cinta. Nampaknya sekarang hal ini terjadi padaku.

Noni, Tika, dan Vera spontan mengucapkan selamat padaku. Trus Santi , Ida, dan beberapa orang lainnya kebagian giliran berikutnya. Kulihat para cowok itu juga langsung ngucapin selamat sama Jefry. Kami bener-bener menjadi pusat perhatian malam ini.

Yah, malam yang mengesankan ini telah rnengakhiri segala keraguanku tentang Jefry. Proses pendekatan yang kami alami memang terhitung amat singkat. Tapi entah mengapa, sejak tadi siang aku selalu merasakan suatu perasaan yang tidak dapat kukatakan tiap kali memandangnya. Nada-nada cinta yang ia bawa seakan membuai diriku hingga terbang tinggi di angkasa.

Senin, 17 Juni 1996. Pagi ini Putri langsung ngucapin selamat padaku. Emang kemaren dia nggak ikut rame-rame di serambi kamar cowok.

Hari ini adalah hari terakhirku di pulau Bali. Selamanya, pulau ini akan tetap penuh kenangan bagiku. Menurut.rencana, hari ini rombongan akan menuju ke Sangeh, Bedugul, terus pulang.

Perjalanan mengunjungi "saudara tua" di Sangeh benar-benar menyenangkan. Sejak tadi sudah enam kali aku mendapat tawaran permen, roti, dan aneka makanan lain dari deret belakang. Si Noni yang always happy itu rnengkoordinir seluruh anggota bus tiga untuk nyanyi bareng. Pokoknya seru deh

"Perhatian, kita sudah tiba di Sangeh. Harap kalung, gelang, dan aneka perhiasan lain yang dapat menarik perhatian kera dilepas dulu !" Tour Guide yang sejak tadi ngomong terus itu memberi pengurnuman.

Di Sangeh, aku dan Jefry berfoto bersama (dengan seekor kera yang bertengger di pundak kiri Jefry). Lalu Jefry juga mengajariku cara memberikan kacang pada kera (tadinya aku takut). Pokoknya si Jefry itu baiiiik banget !

Ketika kembali ke bus, entah mengapa tiba-tiba aku merasa pusing dan ngantuk berat. Emang tadi malam aku kurang tidur, siapa sih yang bisa tidur nyenyak setelah baru aja dapet pacar ?

Sementara yang lain pada turun di Bedugul, aku sih tinggal diem aja di bus. Mendingan tidur daripada sekarang dipaksain lalu nanti jatuh sakit. Bisa-bisa entar di rumah mami yang jadi repot.

Sebelum pulang, acara makan siang diadain di dalam bus (pake makanan dalam kotak. Jefry sama Cahyo kembali ke bis di urutan paling akhir (untung nggak ditinggal). Rupa-rupanya mereka abis main para-settling atau ... apa lah namanya. Aku sendiri juga nggak begitu jelas kok.

Noni yang memang berambut agak coklat itu nggak capek-capeknya ngomel di sebelahku. Tadi di Bedugul ada seseorang yang mengajaknya bicara pake bahasa Inggeris. Dikira turis bule barangkali.

Lama-kelamaan rupanya si Noni bisa juga kehabisan bahan pembicaraan.Ia maju ke depan untuk menyetel kaset lagu-lagu santai yang dibawanya. Biar semua bisa dengar, katanya.

Sementara kursi di sebelahku kosong, pikiranku kembali terbawa pada peristiwa tadi malam. Lagi asik-asiknya melamun, sayup-sayup kudengar alunan suaranya Maribeth dari kasetnya Noni.

Denpasar Moon,
shining on an empty street …
I return, to the place we used to meet …


Sumber : Forum

[love story]KETIKA SENDOK JATUH CINTA

"I love him...". Lalu ia hanya diam, menundukkan kepala seakan-akan ia
telahmelakukan sebuah pengakuan dosa yang teramat buruk.

Siang itu, disebuah meja makan ketika makan siang telah usai. Piring,
gelasdan semua teman-temanya telah lama diangkat pergi. Yang tersisa hanya sendokdan garpu.

"Aku punya cerita". Sendok mengangkat mukanya, memandang garpu penuh selidik.

"Cerita apa ?".

"Bukan cerita sebenarnya. Begini, aku sedari dulu selalu membenci ketika dua orang yang saling jatuh cinta, dan karena sebuah alasan tidak bisa
bersama.
Aku selalu ingin take a part between them and help them so they'll
become acouple. Rasanya menyenangkan, ngeliat dua orang yang saling menyayangi become a couple. I know, i'm not try being a hero".

"Dan rasanya. kali inipun juga aku harus mengambil bagian itu".

"Tapi.."

"Dengarkan dulu". Garpu menarik nafas panjang, menahan perasaannya
sesaat.

"Kali ini berbeda, tapi mungkin situasinya sama. Tapi. aku ambil bagian
didalamnya. Itu yang sulit".

"Lalu kamu mengucapkannya. Satu kalimat itu yang bikin aku sadar. Bikin aku mikir".

Sendok hanya terdiam, menatap sang garpu.

"Kalau aku keep kamu, berarti sama saja aku mengingkari semua yang aku ceritakan tadi. Aku gak bantu kamu untuk become a couple dengan orang yang kamu sayangi."

"Ya..disisi lain.kamu".

"Aku juga sayang kamu. Aku juga pengen jadi couple itu. Tapi..you love
him".

Hening sesaat. Garpu diam dan sendokpun tak tahu musti berkata apa.
Keduanya sibuk dengan perasaan masing-masing.

"Jadi ya.i take my part. I'll go. Jadi semuanya akan mudah buat kalian".

"I'm sorry, bukannya gitu. Ini bukan soal mudah atau bagaimana". Ada
semburat kekecewaan dari wajah cantik sang sendok.

"Aku hanya ingin bantu orang yang aku sayangi. Dan dengan cara ini aku
bisa bantu. Dengan cara yang kamu mau".

"i think this is the best for us.well i hope so..".

"No..bukan best for us.I just take my part. Bantuin orang yang aku
sayangi. Ini buka soal solusi yang baik atau bukan".

Bulir-bulir air mata itu jatuh. Sendok juga merasa sedih yang sama.
Kehilangan orang yang disayangi. Walaupun ia tetap memiliki orang yang
disayangi. Memilih bukan pekerjaan mudah.

"Dear, kalo kamu ntar sayang orang lain, I think u will forget me easier".

"Sama dengan kamu" jawab garpu singkat.

"Nggak. Aku kira sekarang bakal gampang. Tapi toh ternyata aku masih
ada rasa. Memang ada orang yang mau diduain ?. Aku nggak. So i don't want to do it at you"

"I love you. Tapi dia sudah terlalu dekat denganku. Baik secara fisik
ataupun bathin. Maaf, kalo aku chose him instead of you".

Garpu hanya terdiam. Sesaat seperti ada yang menusuk perasaannya.

"You do have a special part in my heart. And still do. But seem i've to
barried it all and burden it."

"Jangan.Masukkan ke dalam kaleng dan simpan. Mungkin suatu nanti kamu akan memerlukannya".

Sendok tersenyum. Garpupun tersenyum.

"To leave you is harder than to hate you"

"Then hate me"

"But i can't hate you, leave you even worse. Jadi aku akan jaga jarak.
Hope it will work".

"Ya, mungkin kita berjalan bersama. Hanya saja disisi yang berbeda".

Garpu tersenyum. "Senyum hon".

"Bagaimana bisa senyum kalau sedih begini".

"I'll miss that smile"

"I'll miss you too. Makasih buat semua ya that u ever love me. I'd
better go now, I have to calm myself".

Garpu memeluk erat sendok. Berharap waktu bisa berhenti berputar.

"Selamat tinggal sayang." bisik sendok.

Siang itu, disebuah meja makan sebuah cinta telah pergi. Ya, ketika
sendok jatuh cinta.

You know all the things I've said You know all the things that we have
doneAnd things I gave to you If there's a chance for me to say How precious you are in my life And you know that is true.
To be with you is all that I need 'cause with you my life seems brighter and these are all the things I wanna say.
I will fly into your arms And be with you till the end of time Why are
you so far away You know it's very hard for me to get my self close to you
You're the reason why I stay You're the one who can not believe Our
love will never end Is it only in my dream ? You're the one who can not see this How could you be so blind.
To be with you is all that I need 'cause with you my life seems
brighter And these are all the things I wanna say



Sumber : Forum